Rabu, 14 Desember 2011

Konsep Filosofis Mengenai Pendidikan


Pandangan filosofis mengenai pendidikan

Pendidikan sebagai usaha manusia yang disengaja untuk memimpin angkatan muda untuk mencapai kedewasaan dan meningkatkan taraf kesejahteraannya, berada dalam suatu lingkungan kebudayaan dan karenanya tidak dapat terlepas dari persoalan eksistensi tersebut diatas. Maka, untuk mengetahui bagaimanakah sesungguhnya pendidikan itu berarti orang perlu melewati dan mendasarkan diri atas tinjauan filosofis.[1]
Perkembangan dan perubahan dalam lapangan pendidikan menimbulkan tantangan agar para pendidik mempunyai sikap tertentu yang telah bersendikan atas pendirian tertentu pula. Untuk ini, yang lazim dianut, menurut Theodore Brameld, adalah kemungkinan-kemungkinan sikap seperti konservatif, bebas dan modifikatif, regresif, atau radikal rekonstruktif.[2]
Beberapa sikap diatas dalam penjabarannya mengenai pendidikan dapat dirumuskan berikut:
  1. Menghendaki pendidikan yang pada hakekatnya progresif. Tujuan pendidikan hendaklah diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus. Pendidikan hendaklah bukan hanya menyampaikan pengetahuan kepada anak didik untuk diterima saja, melainkan yang lebih penting daripada itu adalah melatih kemampuan berpikir dengan memberikan stimuli-stimuli. Yang dimaksud dengan berpikir adalah penerapan cara-cara ilmiah seperti mengadakan analisa, mengadaakn pertimbangan, dan memilih diantara beberapa alternative yang tersedia. Semuanya ini diperlukan oleh pendidikan agar orang yang melaksanakan dapat maju atau mengalami suatu progress. Dengan demikian orang dapat berbuat sesuatu dengan inteligen dan mampu mengadakan penyesuaian kembali sesuai dengan tuntutan dari lingkungan. Aliran ini disebut progrevisme.
  2. Menghendaki pendidikan yang bersendikan atas nilai-nilai yang tinggi, yang hakiki kedudukannya dalam kebudayaan. Nilai-nilai ini hendaklah yang sampai kepada manusia melalui sivilisasi dan yang telah teruji oleh waktu. Tugas pendidikan adalah sebagai perantara atau pembawa nilai-nilai yang ada didalam ‘gudang’ diluar ke jiwa anak didik. Ini berarti bahwa anak didik itu perlu dilatih agar mempunyai kemampuan absorbsi yang tinggi. Aliran ini disebut esensialisme.
  3. Yang menghendaki agar pendidikan kembali kepada jiwa yang mengusai abad Pertengahan, karena jiwa abad Pertengahan telah merupakan jiwa yang menuntun manusia hingga dapat dimengerti adanya tata kehidupan yang telah ditentukan secara rasional. Abad Pertengahan dengan jiwanya itu telah dapat menemukan adanya prinsip-prinsip pertama yang mempunyai peranan sebagai dasar pegangan intelektual manusia dan yang dapat menjadi sarana untuk menemukan evidensi-evidensi diri sendiri. Aliran ini disebut perenialisme.
  4. Yang menghendaki agar anak didik dapat dibangkitkan kemampuannya untuk secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan dan perkembangan masyarakat sebagai akibat adanya pengaruh dari ilmu pengetahuan dan teknologi dan penyesuaian seperti ini anak didik akan tetap berada dalam suasana aman dan bebas. Aliran ini disebut rekonstruksianisme.
  5. Menghendaki agar anak didik bebas untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan dasarnya atau bakatnya. Jadi pengetahuan yang diajarkan disekolah harus bersifat intelektual. Filsafat, logika bahasa, dan matematika akan memperoleh porsi yang besar dalam kurikulum sekolah. Inilah konsep pendidikan yang berdasarkan pandangan idealisme.
  6. Dalam hal ini anak didik maupun orang dewasa selalu belajar dari pengalamannya. Anak didik akan berkembang dengan sendirinya.  Aliran ini disebut pragmatisme.
  7. Konsep ini membebaskan manusia dari tanggung jawab untuk berhubungan dengan kebebasan pilihan sempurna yang dimiliki kita semua. Aliran ini disebut eksistensialisme. 
  8. Meghendaki agar anak didik menguasai pengetahuan yang handal, dapat dipercaya. Dalam hal disiplin, peraturan yang baik adalah esensial untuk belajar. Aliran ini disebut realisme.
  9. Meghendaki agar anak didik selslu tekun dalam mencapai pendidikan, tidak ada kebebasan bagi mereka,karena prilaku ditentukan oleh kekuatan dari luar, pelajaran sudah dirancang. Aliran ini disebut materialisme.  
 Theodore Brameld mengutarakan bahwa visi-visi filosofis tersebut diatas tidak sepenuhnya utuh atau kompak, karena komponen-komponen yang membentuknya tidak sepenuhnya bersendikan pada satu corak. Namun, disamping itu satu sama lain mempunyai kesamaan pandangan sementara segi kefilsafatan, pendidikan dan kebudayaan, terutama antara esensialisme dan perenialisme serat progrevisme dan rekonstruksianisme. Selain itu Brameld juga mengemukakan bahwa keempat aliran ada sebagai hasil dari usaha untuk menyusun dan menafsirkan teori-teori pendidikan utama, yang berarti semuanya adalah konsep. Konsep ini diharapkan menjadi landasan intelektual untuk menyusun, mengadakan analisa dan mencari saling hubungan antar unsur-unsur dari berbagai jenis pengalaman pendidikan dan kebudayaan.[3]
  
Hakikat pendidikan
Dalam memahami pendidikan, ada dua sudut pandang untuk melihat hakikat pendidikan,[4] yaitu:
  • Pendidikan dari sudut pandang individu beranggapan bahwa manusia diatas dunia ini mempunyai sejumlah kemampuan bawaan
  • Dari segi pandangan masyarakat, diakui bahwa manusia memiliki kemampuan-kemampuan asal dan bahwa anak-anak itu mempunyai benih-benih bagi segala yang telah dicapai oleh manusia.
Hakikat pendidikan secara konseptual dan praktis mengandung berbagai elemen yang menjadi kebulatan dalam satu konsep pendidikan. Adapun elemen pendidikan yaitu: dasar dan tujuan pendidikan, pendidik, peserta didik,lingkungan, kurikulum, metode, lembaga pendidikan, dan evaluasi.
Menurut Ali Syaifullah dalam bukunya “Antara Filsafat dan Pendidikan”, hubungan antara filsafat dan teori pendidikan antara lain :[5]
Ø  Kegiatan merumuskan dasar-dasar, dan tujuan-tujuan pendidikan, konsep tentang hakikat manusia, serta konsepsi hakikat dan segi-segi pendidikan serta isi moral pendidikannya.
Ø  Kegiatan merumuskan sistem atau teori pendidikan (science of education) yang meliputi politik pendidikan, kepemimpinan pendidikan atau organisasi pendidikan, metodologi pendidikan dan pengajaran, termasuk pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pengembangan masyarakat dan negara.
Sedangkan, menurut Zanti Arbi (1988) tentang pendidikan ialah sebagai berikut:
Ø  Menginspirasikan, maksudnya adalah memberi inspirasi kepada para pendidik  untuk melaksanakan ide tertentu dalam pendidikan. Melalui filsafat tentang pendidikan, folosof memaparkan idenya bagaimana pendidikan itu, kemana diarahkan pendidikan itu, siapa saja yang patut menerima pendidikan, dan bagaimana cara mendidik serta peran pendidik. Sudah tentu ide-ide ini didasari oleh asumsi-asumsi tertentu tentang anak manusia, masyarakat atau lingkungan, dan negara.
Ø  Menganalisis, maksudnya adalah memeriksa secara teliti bagian-bagian pendidikan agar dapat diketahui secara jelas validitasnya. Hal ini perlu dilakukan dalam menyusun konsep pendidikan secara utuh tidak terjadi kerancuan, tumpang tindih, serta arah yang simpang siur. 
Ø  Mempreskriptifkan, maksudnya adalah upaya menjelaskan atau memberi pengarahan kepada pendidik melalui filsafat pendidikan. Sebagai contoh, Johan Herbart dalam bukunya Scence of Education menginginkan agar guru mempunyai informasi yang dapat diandalkan mengenai tujuan pendidikan yang ingin dicapai dan proses belajar sebelum guru ini memasuki kelas.
Ø  Menginvestigasi, maksudnya adalah untuk memeriksa atau meneliti kebenaran suatu teori pendidikan.


[1] Barnadib, Imam. Filsafat Pendidikan (Pengantar Mengenai Sistem dan Metode). Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) IKIP. 1985.hlm.24.
[2] Theodore Brameld. Philosophies of Education, in Cultural Persrective. New York: The Dryden Press, 1958, hlm.4.
[3] Disarikan dari Brameld, loc.cit, hlm.73-76.
[4] Langgulung, Hasan. Pendidikan Islam Menghadapi Abad ke-21. Jakarta: Pustaka al-Husna. 1988, hlm. 57.
[5] Saifullah, Ali. Filsafat Pendidikan (Pengantar Filsafat Pendidikan). Surabaya: Usaha Nasional, hlm.40.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar