Rabu, 14 Desember 2011

Pendidikan Liberal


A.    Hakikat Manusia Dan Pendidikan Dalam Pendidikan Liberal

Munculnya pendidikan liberal sebagai Paradigma masa kini telah menimbulkan suatu kesadaran, yang mana dengan meminjam istilah Freire (1970) disebut sebagai kesadaran naif. Keadaan yang di katagorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat 'aspek manusia' menjadi akar penyebab masalah masyarakat. Dalam kesadaran ini 'masalah etika, kreativitas, 'need for achevement' dianggap sebagai penentu perubahan social.
Orientasi kemasyarakatan menjadi prioritas tujuan pendidikan. Namun penilaian mutu pendidikan begitu mudahnya dinilai hanya dengan melihat sisi baik buruknya masyarakat, hal ini akan menghilangkan dan menafikan makna dan tujuan utama pendidikan yaitu adanya dua unsur yang saling berkaitan.[1] Pertama : berorientasi kemasyarakatan, secara umum pedidikan memang berorientasi kemasyarakatan, kenegaraan. Pandangan ini juga dianut oleh aliran parenial atau aliran transmisi kebudayaan yang sering dihubung-hubungkan dengan Plato dan beberapa sarjana modern seperti William T. Hariis, Robert Hurchins,dan Adler di Amerika Serikat, serta oleh aliran rekonstruksi sosial modern. Kedua : lebih cenderung berorientasi kepada individu, yang lebih menfokuskan diri pada kebutuhan, daya tampung dan minat belajar. Yang mana hampir semua agama di dunia menganut pandangan yang berorientasi pada individu.salah satu sisi yang menarik perhatian adalah sistem moral yang selalu diupayakan membentuk manusia yang menarik universal (utuh).

B.     Landasan Pendidikan Liberal[2]
Adapun landasan (prinsip-prinsip dasar) pendidikan liberal, yaitu :
1.  Seluruh kegiatan belajar bersifat relative terhadap sifat-sifat dan isi pengalaman personal. Pengalaman personal melahirkan pengetahuan personal, dan seluruh pengetahuan personal merupakan keluaran dari pengalaman / perilaku personal sehubungan dengan sejumlah kondisi objektif tertentu. (prinsip dasar relativisme psikologis )
2.   Subjektivitas (rasa kesadaran personal yang diniatkan semakin berkembang ke arah sebuah system diri yang mekar secara penuh, disebut juga kepribadian) muncul dari proses-proses perkembangan personal, seluruh tindakan belajar yang punya arti penting cenderung untukbersifat subjektif, dalam arti bahwa ia sebagian besar diatur oleh yang volisional dan karenanya merupakan perhatian yang bersifat pilih-pilih atau selektif. (landasan subjektivisme )
3.  Seluruh kegiatan belajar pada puncaknya mengakar pada keterlibatan dalam pengertian inderawi yang aktif. (landasan empirisme, behaviorisme, materialisme, dan  empirisme biologis ).
4.  Seluruh kegiatan belajar pada dasarnya merupakan proses pengujian gagasan-gagasan, dalam situasi-situasi pemecahan masalah secara praktis. (prinsip dasar pragmatisme dan instrumentalisme ).
5.   Cara terbaik untuk mempelajari sesuatu dan sebagai implikasinya juga cara terbaik untuk hidup karena belajar secara eektif adalah dengan cara melakukan penyelidikan kritis yang diaatur oleh pengertian-pengertian eksperimental, yang mencirikan cara berfikir ilmiah. (landasan eksperimentalisme filosofis dan ekperimentalisme ilmiah ).
6.   Pengalaman kejiwaan yang paling dini – pengalaman yang dialami oleh orang yang belajar (the learner) pada waktu ia masih kanak-kanak termasuk latihan-latihan emosional dan kognitif yang pertama-tama diterimanya sangatlah penting karena pengalaman itu berlangsung lebih dahulu daripada pengalaman-pengalaman logis dan psikologis lanjutannya. Pengalaman paling dini tadi menjadi landasan pembentukan kemapanan system dini yang kemudian ada seperti juga menjadi dasar bagi proses-proses kepribadian yang lebih jauh lagi, yang muncul di usia tuss. (sudut pandang psikologis developmentalis  )
7.  Tindakan belajar dikendalikan oleh konsekuensi-konsekuensi emosional dari perilaku personal, yakni prinsip penguatan (reinforcement). Tindakan-tindakan netral yang sifatnya afektif (hedonis) tidaklah dipelajari (demi segala tujuan praktis). Dalam kegiatan belajar, jika hal-hal lain setara, maka pengalaman kenikmatan menentukan apa yang harus dipelajari selanjutnya dan penyelidikan eksperimental menjadi cara belajar yang efektif dank arena berguna untuk memaksimalkan pengalaman kenikmatan / kesenangan selama mungkin. (landasan hedonisme psikologis )
8.  Sifat-sifat hakiki dan isi pengalaman social mengarahkan dan mengendalikan sifat-sifat hakiki dan isi pengalaman personal, dan dengan begitu juga mengarahkan dan mengendalikan pengetahuan personal. (landasan relativisme)
9.   Penyelidikan kritis dari jenis yang punya arti penting hanya bisa berlangsung dalam masyarakat terbuka dan demokratisyang memiliki komitmen terhadap ungkapan umum pemikiran dan perasaan individual. (landasan cita-cita demokrasi social ).
10. jika dalam kondisi-kondisi yang optimal, anak yang berpotensi rata-rata bisa menjadi efektif secara personal dan bertanggungjawab secara sosial


[1] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam, Syed Naquib Al-Attas, Bandung: Mizan, 2003, hlm. 163.
[2] William F. O’neil. Ideology-Ideologi Pendidikan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2001, hlm. 352-357.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar