Jumat, 16 Desember 2011

Sekolah Ideal Dalam Filsafat Pendidikan


ANALISIS FILOSOFIS LINGKUNGAN SEKOLAH IDEAL DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN
Lingkungan yang nyaman dan mendukung terselenggaranya suatu pendidikan amat dibutuhkan dan turut berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan. Dalam literatur pendidikan, lingkungan biasanya disamakan dengan institusi atau lembaga pendidikan. Untuk mengetahui lebih jelas tentang apa dan bagaimana hakikat lingkungan sekolah ideal, maka perlu dilakukan kajian yang komprehensif dan mendalam tentang lingkungan tersebut dalam perspektif filsafat pendidikan.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa lingkungan pendidikan sangat berperan dalam penciptaan sekolah ideal, sebab lingkungan yang juga dikenal dengan institusi, itu merupakan tempat terjadinya proses pendidikan. Secara umum lingkungan tersebut dapat dilihat dari tiga hal, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.
contohnya yaitu keluarga yang ideal dalam perspektif Islam adalah keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Profil keluarga semacam ini sangat diperlukan pembentukannya sehingga ia mampu mendidik anak-anaknya sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Kemudian orang tua harus menyadari pentingnya sekolah dalam mendidik anaknya secara profesional sehingga orang tua harus memilih pula sekolah yang baik dan turut berpartisipasi dalam peningkatan sekolah tersebut.
Sementara sekolah juga berperan penting dalam proses pendidikan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang pada hakikatnya sebagai institusi yang menyandang amanah dari orang tua dan masyarakat, harus menyelenggarakan pendidikan yang profersional sesuai dengan prinsip-prinsip dan karakteristik pendidikan yang sudah ada. Sekolah harus mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan dan keahlian bagi peserta didiknya sesuai dengan kemampuan peserta didik itu sendiri.[1]
Begitu pula masyarakat, dituntut perannya dalam menciptakan tatanan masyarakat yang nyaman dan peduli terhadap pendidikan. Masyarakat diharapkan terlibat aktif dalam peningkatan kualitas pendidikan yang ada di sekitarnya. Selanjutnya, ketiga lingkungan pendidikan tersebut harus saling bekerja sama secara harmonis sehingga terbentuklah pendidikan terpadu yang diikat dengan aturan pendidikan.
   
PERAN KEPALA SEKOLAH YANG IDEAL
Manusia lahir di dunia fana ini semuanya dalam keadaan fitrah ibarat kertas yang masih putih yang belum ada tulisannya. Kemudian turun iqro atau perintah membaca, yang sebernarnya perlu ditafsirkan dengan pikiran filosofis, sehingga tidak diartikan dengan makna membaca melainkan merenung, memahami, mengaktualisasikannya. 
Dengan diturunkannya manusia ke bumi adalah sebagai khalifah (pemimpin). Suatu keniscayaan, apabila seorang pemimpin adalah orang yang bodoh atau dengan kata lain tidak berilmu, kemudian Allah juga membekali manusia dengan ilmu pengetahuan. Allah mengajarkan nama-nama benda kepada manusia yang dengan cerdas manusia bisa memahami benda-benda yang diajarkan.
Peran kepala sekolah dalam memimpin sekolah menjadi sangat penting terutama dalam menentukan arah dan kebijakan pendidikan yang di bangun. Sebagai pemimpin tunggal, kepala sekolah merupakan salah satu faktor penentu yang dapat mendorong sekolah mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran melalui berbagai program yang dilaksanakan secara terencana. Oleh karena itu, kepala sekolah harus memiliki kemampuan menajemen dan kepemimpinan yang tangguh, sehingga diharapkan dapat mengambil keputusan secara cepat, di samping memiliki sikap prakarsa yang tinggi dalam meningkatkan mutu pendidikannya.
Untuk kepentingan tersebut kepala sekolah selayaknya mampu memobilisasi atau memberdayakan semua potensi dan sumber daya yang dimiliki, terkait dengan berbagai program, proses, evaluasi, pengembangan kurikulum, pembelajaran di sekolah/di industri, pengolahan tenaga kependidikan, sarana prasarana, pelayanan terhadap siswa, hubungan dengan masyarakat, sampai pada penciptaan iklim sekolah yang kondusip. Semua ini akan terlaksana manakala kepala sekolah memiliki kemapuan untuk mempengaruhi semua pihak yang terlibat dalam kegiatan pendidikan di sekolah, yaitu untuk bekerjasama dalam mewujudkan tujuan sekolah. 
Sekolah merupakan bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran.[2] Sekolah dipimpin oleh seorang Kepala Sekolah. Kepala sekolah dibantu oleh wakil kepala sekolah.Jumlah wakil kepala sekolah di setiap sekolah berbeda, tergantung dengan kebutuhannya.Bangunan sekolah disusun meninggi untuk memanfaatkan tanah yang tersedia dan dapat diisi dengan fasilitas yang lain. Ketersediaan sarana dalam suatu sekolah mempunyai peran penting dalam terlaksananya proses pendidikan.

PENGEMBANGAN KOMPONEN BELAJAR YANG IDEAL
            Pandangan tentang belajar akan mendasari kurikulum yang akan dilaksanakan. Kurikulum pada hakikatnya merupakan suatu program belajar yang dengan sengaja dan berencana untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hubungan itu ada beberapa prinsip belajar yang dapat kita jadikan pegangan, yakni:
  • Belajar senantiasa bertujuan.
  • Belajar berdasarkan kebutuhan dan motivasi siswa.
  • Belajar berarti mengorganisasi pengalaman
  • Belajar memerlukan pemahaman.
  • Belajar bersifat keseluruhan (utuh atau umum), di samping khusus.
  • Belajar memerlukan ulangan dan latihan.
  • Belajar memperhatikan perbedaan individual.
  • Belajar harus bersifat kontinu (ajeg).
  • Dalam proses belajar senantiasa terdapat hambatan-hambatan.
  • Hasil belajar adalah dalam bentuk perubahan perilaku siswa secara menyeluruh.[3]
            Prinsip-prinsip belajar tersebut umumnya telah menjadi kesimpulan semua ahli psikologi belajar. Karena itu prinsip-prinsip ini perlu dipertimbangkan dalam perencanan kurikulum.

PENGEMBANGAN KOMPONEN SISWA YANG IDEAL
Proses perencanaan kurikulum senantiasa mempertimbangkan sikap yang akan menerima kurikulum itu. Berhasil tidaknya suatu kurikulum banyak tergantung pada kesesuaian isi kurikulum dan pihak yang menyerapnya. Pengakuan pendidik terhadap anak sebagai individu yang sedang berkembang, yang memiliki potensi untuk berkembang, yang berbeda satu sama lainnya secara individual, yang mampu bereaksi dan berinteraksi, yang mampu menerima, yang kreatif, dan berusaha menemukan sendiri, semuanya menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun kurikulum.
Pandangan tentang siswa juga sangat berpengaruh terhadap penentuan strategi instruksional di kelas. Bahkan patut pula diperhatikan, bahwa antara siswa satu sama lainnya dalam kelompok/kelas yang sama sudah tentu berbeda-beda, baik secara horizontal maupun secara vertikal. Kenyataan ini membawa implikasi yang jauh terhadap pembinaan dan pengembangan kurikulum dan strategi belajar-mengajar.

PENGEMBANGAN KOMPONEN KEMASYARAKATAN YANG IDEAL
Masyarakat sebagai lembaga pendidikan non formal, juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan, tetapi tidak mengikuti peraturan-peraturan yang tetap dan ketat. Masyarakat yang terdiri dari sekelompok atau beberapa individu yang beragam akan mempengaruhi pendidikan peserta didik yang tinggal di sekitarnya. Oleh karena itu, dalam pendidikan Islam, masyarakat memiliki tanggung jawab dalam mendidik generasi muda tersebut.
Sekolah yang ideal harus mempertimbangkan masyarakat dalam semua aspek, sesuai dengan sistem kepercayaan, sistem nilai, sistem kebutuhan yang terpadu dalam masyarakat. Kurikulum harus sejalan dengan tuntutan dalam pembangunan. Kurikulum harus memberikan andilnya dalam membentuk tenaga pembangunan yang kreatif, kritis dan inovatif, yang terampil dan produktif.
Untuk mengetahui keinginan, kebutuhan, tuntutan, masalah, aspirasi masyarakat, sebaiknya dilakukan survei dokumenter dan lapangan. Kita dapat memperoleh gambaran tentang aspirasi masyarakat yang sedang berkembang dewasa ini dan lingkungan tertentu seperti: keluarga, masyarakat desa, masyarakat kota, kelompok-kelompok sosial tertentu, dan jika perlu dapat pula diperoleh dari kelompok masyarakat yang tergolong sektor “informal” (tuna karya, tuna wisma, tuna susila, dan sebagainya).

PENGEMBANGAN KOMPONEN ORGANISASI MATERI KURIKULUM YANG IDEAL
            Kurikulum yang ideal adalah kurikulum yang relevan dengan pendidikan yang ideal adalah kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dan tuntutan jaman. Kurikulum menekankan pada aspek kognitif, afektif, dan pertumbuhan yang normal. Pembinaan kepribadian merupakan kajian utama kurikulum. Materi program berupa kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan self-esteem, motivasi berprestasi, kemampuan pemecahan masalah perumusan tujuan, perencanaan, efektifitas, hubungan antar pribadi, keterampilan berkomunikasi, keefektifan lintas budaya, dan perilaku yang bertanggung jawab.
            Materi/isi kurikulum yang disusun adalah untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, bahwa kurikulum yang direncanakan itu seharusnya mengikuti pola organisasi tertentu dengan kriteria kurikulum yang dapat dijadikan pedoman, yakni:
  • Kriteria dalam hubungan dengan tujuan pendidikan.
  • Kriteria sehubungan dengan sifat siswa.
  • Kriteria yang bertalian dengan proses pendidikan.[4]
            Bentuk organisasi kurikulum yang akan dipergunakan juga hendaknya memperhatikan beberapa faktor, yakni: urutan bahan pelajaran, ruang lingkup dan penempatan bahan pelajaran. Kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran, urutan bahan, ruang lingkup dan penempatannya disesuaikan dengan karakteristik masing-masing mata pelajaran tersebut.
            Kurikulum yang berkorelasi umumnya tersusun dalam bentuk bidang studi (broadfield) urutan pokok bahasan didukung oleh sejumlah bahan dari mata pelajaran yang tercakup dalam bidang studi tersebut.
            Kurikulum terintegrasi pada unit-unit pengajaran, yang masing-masing unit didukung oleh sejumlah mata pelajaran atau bidang studi. Tiap unit merupakan suatu masalah yang luas dan perlu dipecahkan, dan pemecahannya membutuhkan bahan dari setiap bidang studi. Itu sebabnya, urutan bahan, ruang lingkup dan penempatan bahan untuk setiap unit harus dirancang berdasarkan kebutuhan unit dan sistem instruksional yang dilaksanakan. Dengan demikian, masing-masing bentuk kurikulum tersebut harus memperhatikan karakteristik materi yang terkandung pada unsur-unsur pendukungnya.
Menurut Marheim yang dikutip Sanapiah pendidikan merupan seuatu proses yang dinamik yang senantiasa memperhatikan pengalaman-pengalaman sosial maupun personal, oleh karenanya menuntut analisis, seleksi, refleksi, dan evaluasi yang secara bersama-sama untuk memberikan sejumlah pengetahuan agar bisa lebih memahami totalitas dunia semua makhluk adalah belajar sepanjang hayatnya (long life education). hewan juga belajar, akan tetapi manusia belajar melalui akal dan pikirannya. Hal inilah yang membedakan antara manusia dengan makhluk yang lainnya. Akhirnya dengan akal pikiran itu, manusia menjadi cerdas dan thu apa yang belum ia ketahui. Sehingga terciptalah kemajuan ilmu pengetahuan dan kebahagian dalam kehidupan.
Pendidikan pada umumnya, memiliki peranan yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian dan perkembangan intelektual anak. Dengan berbagai upaya yang dilakukan, pendidikan senantiasa mengalami pengkajian ulang dan pembaharuan untuk mencari bentuknya yang paling ideal. Pembaruan dan pengembangan  disesuaikan dengan melihat kesesuaiannya dengan hakikat pendidikan itu sendiri dan perkembangan anak. Penyesuaian ini tentu saja akan membawa sains dalam praktek pendidikan (pembelajaran) di lingkungan pendidikan formal (sekolah) untuk mengembangkan pendidikan.
Mayoritas penduduk Indonesia adalah penduduk menegah ke bawah dan petani kecil. Kebanyakan dari mereka adalah tuna aksara. Banyak diantara mereka yang  masuk sekolah dasar tetapi tidak sampai tamat; kebanyakan cepat putus sekolah atau gagal mengikuti pelajaran secara teratur. Sedangkan selama ini pendidikan yang diadakan di Indonesia adalah bukanlah dari formulasi pendidikan sejati. Artinya adalah masyarakat kalangan bawah belum tersentuh oleh pendidikan yang berbasis pemerataan (educatian for al and all for educationl). Lebih-lebih sekarang ini banyak tumbuh sekolah-sekolah favorit, sekolah unggul, pakaian seragam yang itu semua sebenarnya adalah pelabelan terhadap kelas atas. Apakah pendidikan di Indonesia hanya untuk mengakui kelas sosial saja? Dan apakah masyarakat kalangan bawah yang hidup di kolong-kolong jembatan misalkan tidak bisa mengikuti sekolah di sekolah-sekolah favorit? Padahal banyak diantara mereka secara akademik mampu bersaing dengan yang lain. 
Pendidikan yang kita selama ini sebenarnya adalah hanya transfer ilmu pengetahuan dari seorang guru kepada siswanya. Hal ini didasari dengan banyaknya guru yang hanya berorientasi pada target (goal oriented) tanpa adanya proses mendidik yang baik kepada anak didiknya. Perbedaan antara pendidikan dan pengajaran. Pendidikan mencakup masalah bagaimana mengembangkan anak didik sebagai manusia individu sekaligus warga masyarakat, sementara pengajaran adalah hanya bagian dari kegiatan pendidikan.
Padahal tujuan pendidikan yang sangat dasar dan elementer adalah:
 (1) mengembangkan semua bakat dan kemampuan seseorang, baik yang masih anak, maupun yang sudah dewasa, sehingga perkembangannya mencapai tingkat optimum dalam batas hakikat orang tadi
 (2) menempatkan bangsa Indonesia pada tempat terhormat dalam pergaulan antar bangsa sedunia. Maka pendidikan harus diorganisir sesuai dengan prinsip pendidikan yang murni (the true principles of education).[5]
Pendidikan yang humanis yang paling menentukan dalam hal ini adalah bagaimana seorang pengajar mampu mengajarkan ilmu sebagai suatu ilmu empiris kepada anak didiknya, selain itu pengajar juga harus memiliki empati. Tanpa empati, pengajar tidak bisa mengajar dengan bergairah,  syarat mutlak yang harus dimiliki seorang pengajar agar pelajar terbuka mata budinya terhadap keindahan ilmu pengetahuan (pendidikan).
Perbaikan pendidikan tidak hanya berarti perbaikan masa depan anak didik, melainkan juga perbaikan bangsa dan negara Indonesia. Karenanya, sesuai dengan konsepsi long life education pendidikan harus melaksanakan pembinaan sedini mungkin mulai dari tingkat dasar. Berhasil tidaknya pendidikan pada akhirnya dinilai masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat.


[1] Asmoro. Achmadi, Filsafat Umum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001
[2] M.Sc. Sastrawijaya. Tresna, Pengembangan Program Pengajaran, Rineka Cipta. Jakarta,1991, Hal: 82
[3] Darajat. Zakiah. DR, Pengembangan Kemampuan Belajar pada Anak-anak, Bulan Bintang, Jakarta,1980, Hal:35
[4] Hamalik. Oemar, Manajemen Pengembangan Kurikulum, PT. Remaja  Rosdakarya, Bandung, 2008, Hal:49
[5] M.A. Nasution. S. Dr. Prof, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, Bumi Aksara, Jakarta,1982, Hal:8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar