Kamis, 17 Mei 2012

Kajian Teori Dalam Penelitian Tindakan Kelas


 A.    Pendahuluan
Diskusi tentang posisi kajian teori dalam penelitian tindakan kelas setidaknya melibatkan tiga aspek penting, yaitu paradigma penelitian, posisi penelitian tindakan kelas, pokok permasalahan teoritis dalam konteks penelitian tindakan kelas. Berikut ini disajikan pembahasan masing-masing aspek tersebut:
                      1.  Paradigma Penelitian
Perkembangan perubahan paradigma dalam penelitian pendidikan menarik untuk dicermati. Ketika penerapan statistik diperkenalkan ke dunia pendidikan, banyak peneliti tertarik untuk mennggunakannya. Kecenderungan ini meningkat tajam dengan kehadiran komputer yang menawarkan program-program statistika sehingga sangat membantu memudahkan siapa saja yang menggunakannya untuk menganalisis data secara statistik. Penggunaan statistik sangat diwarnai oleh paradigma positifistik-kuantitatif. Pengaruh positifnya memang sangat banyak, terutama mempercepat kerja peneliti dan keakuratan hasil analisis data lebih terjamin dibandingkan dengan yang dilakukan secara manual. Namun disisi lain ada juga pengaruh negatifnya, yaitu terasa terpinggirkannya teori dalam penelitian, sampai-sampai ada kritik tajam yang mengatakan bahwa penelitian pendidikan adalah penelitian yang bersifat “ateoritik” atau paling tidak lemah dalam landasan teoritisnya.
Perkembangan selanjutnya muncul paradigm penelitian naturalistic-fenomenologis yang pendekatannya kualitatif. Paradigma ini muncul seakan-akan menawarkan solusi agar paradigma kuantitaif sebagai warna utama dalam penelitian pendidikan yang cenderung  kering pembahasan teoritisnya dapat dihindari. Namun perkembangan paradigma ini juga tidak terlapas dari pengaruh negatif. Ada pengaruh negatif yang cenderung tampak dan berkembang, yakni bahwa pendekatan kualitatif cenderung dipilih sebagai upaya menghindari statistika bagi orang-orang yang tidak senang dengan statistika atau kesulitan dalam menggunakan analisis statistik.
Kekeringan kajian teoritis menyebabkan penelitian mengalami kurang memiliki landasan yang kokoh dan mengalami pendangkalan makna dari hasil analisis datanya. Ini terjadi karena peneliti menjadi kurang tajam dalam melakukan refleksi yang sangat memerlukan kemampuan berpikir abstrak, menemukan dan membuat asosiasi, dan komparasi secara teoritis. Kemampuan berpikir analitik dan kemampuan berpikir sintetik dengan dasar teori yang kokoh sangat besar perannya dalam menghasilkan makna hasil penelitian yang berkualitas.
Berkenaan dengan paradigm penelitian positivistic dan fenomenologis ini, ada  tiga kemungkinan pandangan atau sikap seseorang sebagai peneliti, yaitu:
  1. Bersikap opsisional, yaitu mendudukkan kedua paradigma itu dalam posisi yang berseberangan, peneliti tidak ada kemungkinan lain kecuali memilih salah satu karena berpandangan bahwa kedua paradigma itu saling bertentangan satu dengan yang lain 
  2. Bersikap komplementaristik, yaitu menggunakan kedua paradigma penelitian itu untuk saling melengkapi, peneliti dapat menggunakannya secara bergantian sesuai dengan sifat permasalahan yang diteliti. Ini yang belakangan dikenal dengan complementary research. 
  3.  Bersikap integralistik atau nonparadigmatik, yaitu peneliti membebaskan diri dari kedua paradigma penelitian tersebut.
      2.   Posisi Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas memiliki sifat yang khas yaitu reflektif-partisipatoris. Artinya guru sebagai peneliti berpartisipasi secara aktif melaksanakan proses pembelajaran dan sekaligus mengamati, mencermati, merenungkan, mencari, dan menumukan aspek-aspek penting yang perlu diperbaiki. Unsur utama yang membedakannya dengan penlitian lain adalah adanya tindakan untuk memperbaiki proses pembelajaran dan hasil belajar siswa. Perbedaannya dari penelitian eksperimen adalah terletak pada tingkat ketepatan pengendalian variabel, pada penelitian tindakan kelas rancangan dimungkinkan mengalami perubahan, penajaman, tanpa harus kehilangan teman senteralnya.
Penelitian tindakan kelas memiliki tujuan utama yaitu menghasilkan perbaikan, artinya kalau dalam proses pelaksanaan tindakan ditemukan hal-hal yang kurang sesuai, sangat dimungkinkan dilakukan perubahan atau penajaman tindakan agar tujuan perbaikan yang direncanakan dapat tercapai, tanpa mengubah rancangan induknya. Dari sudut pandang lain sangat penting bagi peneliti untuk berbuat sesuatu agar perubahan dan perbaikan yang ditimbulkan  oleh tindakan yang dilakukan dapat terjadi secara maksimal. Kemampuan improvisasi dalam tindakan dan pendataannya merupakan sesuatu yang menuntut kelincahan peneliti dalam menggunakan metodologi penelitian. Di sinilah terasa bahwa cara kerja yang ditawarkan oleh pendekatan kualitatif sangat diperlukan dalam penelitian tindakan kelas. Dalam pada itu, fleksibilitas kerja penelitian untuk kepentingan peningkatan hasil penelitian dengan tetap mengacu pada kaidah penelitian ilmiah yang diperlukan. Dikaji dari sudut pandang ini, Penelitian tindakan kelas memiliki sifat-sifat penelitian kualitatif. Ini tampak jika di tinjau dari proses pelaksanaan tindakan yang membuka peluang improvisasi, proses pengumpulan data dengan berbagai metode dan dari berbagai sumber, dan refleksi berjalan terus-menerus untuk menghasilkan dampak tindakan dan pemaknaan hasil secara baik agar mampu memberikan perubahan dan perbaikan proses pembelajaran dan hasil belajar.

B.     Peran Teori Dalam Penelitian
Sesungguhnya ada banya sekali variasi jenis-jenis penelitian. Variasi itu semakin tampak tergantung dari perbedaan dimensi yang digunakan untuk memandangnya. Salah satu cara untuk melihat dan memaknai jenis-jenis penelitian dalam kaitannya dengan peran kajian teori dalam penelitian adalah dengan menempatkannya ke dalam suatu kontinum: deskriptif-ekspalanatif-verifikatif. Dengan pembedaan kelompok penelitian ke dalam tiga jenis penelitian itu menjadi tampak peran kajian teori di dalam masing-masing jenis penelitian tersebut. Berikut ini tabel yang menggambarkan peran teori dalam penelitian:
Jenis Penelitian
Ciri-ciri Utama
Peran Teori
Deskriptif
1. Menggambarkan apa adanya
2.      Tanpa intervensi
3.      Naratif verbal
4.      Indukstif kualitatif
5.      Tanpa hipotesis
Mempertajam interpretasi
Eksplanatif
1.      Dengan/tanpa intervensi
2.      Kuantitatif/kualitatif
3.      Dengan/tanpa hipotesis
1.Membangun model hubungan antar variabel
2.Instrumentasi pengukuran
3.Interpretasi
Verifikatif
          1  .Ada intervensi
          2. Manipulatif.   
     3.  Kuantitatif
     4. Deduktif
           5. Uji hipotesis
1.  Analisis Masalah
2.  Perancangan eksperimen
3. Instrumentasi pengukuran
4.Interpretasi
Pada tabel di atas terlihat bahwa peran teori sangat beragam tergantung pada posisi epistemologis peneliti dan juga tujuan penelitiannya. Pada jenis penelitian yang bersifat deskriptif, yang dalam penelitiannya tanpa intervensi, teori sangat membantu dalam melakukan analisis dan interpretasi data. Di sisi lain,  peran teori jauh lebih banyak misalnya pemetaan permasalahan penelitian. Proses penemuan dan pemetaan permasalahan penelitian , ada yang diperoleh berdasarkan ketajaman peneliti menemukan murni pada  tataran teori, tetapi ada juga yang diperoleh berdasarkan pada penjelajahan dan ketajaman menggali empiri di lapangan. Perancangan penelitian sudah pasti memerlukan penguasaan teori yang kokoh berkenaan dengan sifat objek penelitian; identifikasi variabel penelitian, baik variabel perlakuan maupun variabel control; dan temasuk perumusan hipotesis penelitian yang merupakan penurunan deduktif dari teori. Instrumentasi untuk kualifikasi data juga sangat membutuhkan dasar kajian teoritis yang kokoh, baik teori substantif maupun teori bantunya, agar butir-butir instrument itu tidak menyimpang dari objek yang hendak diukur. Interpretasi hasil analisis data juga sangat memerlukan kajian teori jika ingin mampu memberikan pemaknaan secara komprehensif, tajam, dan mendalam.
Pada jenis penelitian yang berfungsi eksplanasi, peran teori juga bermacam-macam. Peran teori yang sangat menonjol pada jenis penelitian ini adalah sebagai “grand theory” teori utama yang mendasari penyusunan model structural hubungan antara variabel. Dalam epistemology modernisasi, peran grand theory ini sangat kuat pengaruhnya terhadap proses deduksi, elaborasi pertanyaan penelitian, instrumentasi, rancangan, analisis, sampai dengn pemaknaan hasil analisis.

C.    Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas merupakan wilayah interaksi antara penelitian tindakan dengan penelitian kelas. Penelitian tindakan kelas juga merupakan penerapan metodologi penelitian tindakan dengan objek proses pembelajaran di kelas. Tujuan utamanya adalah melakukan perbaikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa melalui sejumlah tindakan yang dirancang sebaik-baiknya. Untuk mencapai perbaikan dan peningkatan kualitas secara maksimal, rumusan tindakan itu bahkan tidak cukup hanya dilakukan satu kali saja melainkan bersiklus secara spiral.
Ada sejumlah karakteristik penelitian tindakan kelas yang menonjol dan perlu dicermati, yaitu: 
  1. Substansi objek penelitiannya adalah situasi kelas, di dalamnya termasuk faktor-faktor input dan proses dalam aktivitas pembelajaran 
  2. Guru dan murid diperlakukan sebagai dari subjek penelitian, bukan sebagai objek yang diteliti. Guru sebagai pelaku berperan aktif sejak penemuan dan perumusan masalah yang memerlukan tindakan, perencanaan tindakan kelas, dan refleksi yang diperlukan pada setiap tahap dan akhir siklus. 
  3.  Refleksi diri karena guru diposisikan sebagai subjek aktif dalam penelitian tindakan kelas. 
  4. Partisipatoris, karena guru selain melaksanakan proses pembelajaran juga sekaligus melaksanakan penelitian. 
  5. Bersiklus, artinya ada proses yang berulang dalam serangkaian tindakan yang dilakukan. Pada setiap putaran terdiri atas empat kegiatan utama, yaitu: Perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan tindakan, dan refleksi terhadap keseluruhan tindakan 
  6. Fleksibel, artinya dalam penelitian tindakan kelas dimungkinkan terjadinya improvisasi atas tema sentral dan konsep dasar tindakan.
Kemmis dan Mc. Taggart (1998), mengajukan lima karakteristik penting dalam penelitian tindakan kelas, yaitu:
  1. Situasional, artinya penelitian tindakan kelas berkaitan langsung dengan permasalahan konkrit yang dihadapi guru dan siswa dalam proses pembelajaran. 
  2. Konstektual, artinya penelitian tindakan kelas merupakan upaya  yang dilakukan dengan melalui model dan prosedur tindakan yang tidak bisa dilepaskan dari konsteks budaya, sosial politik, maupun ekonomi di mana proses pembelajaran berlangsung. 
  3.  Kolaboratif, artinya dalam penelitian tindakan kelas memerlukan adanya partisipasi aktif antara guru dan siswa, dan mungkin dengan teknisi laboran, dan sebagainya yang terkait dalam membantu proses pembelajaran. 
  4.  Self-reflektif dan self-evaluatif, artinya guru sebagai pelaksana dan pelaku tindakan melakukan tindakan refleksi dan evaluasi terhadap hasil dan kemajuan yang dicapai. Perubahan atau perbaikan tindakan yang dilakukan didasarkan pada hasil refleksi dan evaluasi yang telah dilakukan. 
  5.  Fleksibel, artinya  penelitian tindakan kelas memberikan sedikit kelonggaran dalam pelaksanaan tanpa melanggar kaidah metodologis ilmiah. Misalnya: tidak ada prosedur pengambilan sampel, alat pengumpul data bersifat informal, dan sebagainya.
D.    Peran Kajian Teori dalam Penlitian Tindakan Kelas
Sebagai mana jenis penelitian lain, kajian teori dalam penelitian tindakan kelas juga memiliki peran yang penting. Kajian teori memberikan landasan yang kokoh untuk menemukan, mengenali dan merumuskan permasalahan yang layak untuk dijadikan focus penelitian. Kajian teori juga memberikan landasan yang kokor dan rasional dalam merumuskan hipotesis tindakan, sehingga hipotesis tindakan yang dirumuskan tidak sekedar menduga-duga saja. Tidak kalah pentingnya adalah kajian teori memberikan bekal pemahaman dan landasan yang kokoh bagi guru sebagai peneliti dalam melakukan refleksi.
Untuk mempermudah memahami peran kajian teori dalam penelitian tindakan kelas, dapat disimak penjelasan yang tertera pada tabel di bawah ini. 
Fungsi/Tahapan
Peran Teori
Perlu Perhatian Khusus
Refleksi awal, Identifikasi tema sentral
Sebagai landasan untuk menemukan, mengenali, dan memetakan permasalahan yang akan dijadikan focus penelitian tindakan kelas.
Diperlukan kesepahaman konseptual teoritik. Untuk itu perlu ada dialog dengan teman sejawat atau dengan peneliti dari perguruan tinggi kependidikan
Perencanaan tindakan
Sebagai dasar pertimbangan perumusan rancangan tindakan dan perumusan hipotesis tindakan.
Tidak perlu kaku kerena rancangan tindakan bersifat tentatif dan akan diperbaiki
Pelaksanaan Tindakan
Sebagai pengarah dan  pemandu dalam melaksanakan tindakan
Kepekaan terhadap kesulitan pelaksanaan
Pengamatan, pemantauan pelaksanaan tindakan
Sebagai sumber kriteria untuk mempertimbangkan ketepatan arah dan kualitas perubahan  yang ditimbulkan oleh tindakan  yang dilakukan.
Perlu pencermatan atas kejadian yang tidak deirencanakan dan sejumlah kejadian-kejadian bermakna lainnya.
Refleksi
Sebagai salah satu alat untuk memaknai bebragai indikasi proses perubahan, hasil, dan dampak perubahan.
Hindarkan penggunaan teori hanya untuk pembenaran
Peralihan antar siklus
Teori untuk dasar pertimbangan kesinambungan antarsikulus dan perbaikan siklus berikutnya
Hubungan antar substansi satu siklus dengan siklus berikutnya.

Demikian pembahasan mengenai Kajian Teori Dalam Penelitian Tindakan Kelas, semoga bermanfaat, dan jangan lupa komentarnya ya.

Sumber :
1.   Mohommad Ashori (2007), Penelitian Tindakan Kelas, Bandung : CV Wacana Prima.
2. Kemmis, S. and Mc Taggart,R. (1998) “The Action Research Planner”. Victoria: The Deakin University.

2 komentar:

  1. sangat bermanfaat sebagai acuan referensi

    BalasHapus
  2. Dg keterbtsan iq sya,,,sya lom pham betul gimna cra menentukan grand theori dlm PTK😟

    BalasHapus