"SELAMAT DATANG DI BLOG 007INDIEN SEMOGA MENDAPATKAN SESUATU YANG BERMANFAAT DI BLOG INI"

Selasa, 12 Juni 2012

Model Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Kooperatif


A.    Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan. Oleh karena itu pemilihan berbagai metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama. Menurut Eggen dan Kauchak  dalam Wardhani (2005), model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang untuk mencapai suatu pembelajaran. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi
kegiatan pembelajaran. Salah satu tujuan dari penggunaan model pembelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa selama belajar. Dengan pemilihan metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran, diharapkan adanya perubahan dari mengingat (memorizing) atau menghapal (rote learning) ke arah berpikir (thinking) dan pemahaman (understanding), dari model ceramah ke pendekatan discovery learning atau inquiry learning, dari belajar individual ke kooperatif, serta dari subject centered ke clearer centered atau terkonstruksinya pengetahuan siswa (Setiawan, 2005).

Model pembelajaran kooperatif bukanlah hal yang sama sekali baru bagi guru. Apakah model pembelajaran kooperatif itu? Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompokkelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Nur (2000), semua model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. Struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan pada model pembelajaran kooperatif berbeda dengan struktur tugas, struktur tujuan serta struktur penghargaan model pembelajaran yang lain. Dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif, siswa didorong untuk bekerja sama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial.

Menurut Nur (2000), prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut.
1.  Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
2.   Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.
3.   Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
4.      Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
5.  Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
6.  Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Masih menurut Nur (2000), ciri-ciri model pembelajaran kooperatif sebagai berikut
  1. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. 
  2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. 
  3.  Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing individu.
Dalam pembelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain. Terdapat 6 (enam) langkah dalam model pembelajaran kooperatif.
Langkah
Indikator
Tingkah Laku Guru
Langkah 1
Menyampaikan tujuan
dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran dan
mengkomunikasikan kompetensi
dasar yang akan dicapai serta
memotivasi siswa.
Langkah 2
Menyajikan informasi.
Guru menyajikan informasi kepada
siswa.
Langkah 3
Mengorganisasikan
siswa ke dalam
kelompok-kelompok
belajar.
Guru menginformasikan
pengelompokan siswa.
Langkah 4
Membimbing
kelompok belajar
Guru memotivasi serta memfasilitasi
kerja siswa dalam kelompokkelompok
belajar.
Langkah 5
Evaluasi. Guru
Guru mengevaluasi hasil belajar
tentang materi pembelajaran yang
telah dilaksanakan.
Langkah 6
Memberikan
penghargaan.
Guru memberi penghargaan hasil
belajar individual dan kelompok.

B.     Beberapa Tipe Model Pembelajaran Kooperatif
Beberapa tipe model pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain Slavin (1985), Lazarowitz (1988) atau Sharan (1990) dalam Rachmadi (2006) sebagai berikut.
1.      Pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw.
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini pertama kali dikembangkan oleh Aronson dkk. Langkah-langkah dalam penerapan jigsaw adalah sebagai berikut.
a.  Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4 - 6 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah serta jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan jender. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam tipe jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG).
 Dalam kelompok ahli siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok jigsaw (gigi gergaji). Contoh pembentukan kelompok jigsaw sebagai berikut.
Misal suatu kelas dengan jumlah siswa 40, dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh dalam diskusi di kelompok ahli serta setiap siswa menyampaikan apa yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal.
b.  Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
c.      Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual.
d.   Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
e.      Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran
f.   Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan jigsaw untuk belajar materi baru
maka perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup
sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

2.      Pembelajaran kooperatif tipe NHT (Number Heads Together)
Pembelajaran kooperatif tipe NHT dikembangkan oleh Spencer Kagen (1993). Pada umumnya NHT digunakan untuk melibatkan siswa dalam penguatan pemahaman pembelajaran atau mengecek pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.
Langkah-langkah penerapan NHT:
a.   Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
b.     Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau awal.
c.   Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4–5 siswa, setiap anggota kelompok diberi nomor atau nama.
d.  Guru mengajukan permasalahan untuk dipecahkan bersama dalam kelompok.
e.  Guru mengecek pemahaman siswa dengan menyebut salah satu nomor(nama) anggota kelompok untuk menjawab. Jawaban salah satu siswa yang ditunjuk oleh guru merupakan wakil jawaban dari kelompok.
f.   Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada akhir pembelajaran.
g.      Guru memberikan tes/kuis kepada siswa secara individual
h. Guru memberi penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya(terkini).
  
     3. Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions).
Pembelajaran kooperatif tipe STAD dikembangkan oleh Slavin dkk. Langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD:
a.   Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
b.  Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual sehingga akan diperoleh skor awal.
c. Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 – 5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah). Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan jender.
d.      Bahan materi yang telah dipersiapkan didiskusikan dalam kelompok untuk mencapai kompetensi dasar. Pembelajaran kooperatif tipe STAD, biasanya digunakan untuk penguatan pemahaman materi (Slavin, 1995).
e.     Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
f.      Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.
g.   Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).

4.  Pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assited Individualization atau Team Accelarated Instruction)
Pembelajaran kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh Slavin. Tipe ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh karena itu kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah, ciri khas pada tipe TAI ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.
Langkah-langkah pmbelajaran kooperatif tipe TAI sebagai berikut.
a.Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.
b.     Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal.
c.  Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 – 5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan (tinggi, sedang dan rendah) Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan jender.
d.  Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok. Dalam diskusi kelompok, setiap anggota kelompok saling memeriksa jawaban teman satu kelompok.
e.  Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
f.     Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual.

g.  Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).  

       C. Pembentukan dan Penghargaan Kelompok
   Salah satu cara membentuk kelompok berdasarkan kemampuan akademik seperti berikut: 
    Menurut Slavin (1995) guru memberikan penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar dari nilai dasar (awal) ke nilai kuis/tes setelah siswa bekerja dalam kelompok. Cara-cara penentuan nilai penghargaan kepada kelompok dijelaskan sebagai berikut.
Langkah – langkah memberi penghargaan kelompok:
1. Menentukan nilai dasar (awal) masing-masing siswa. Nilai dasar (awal) dapat berupa nilai tes/kuis awal atau menggunakan nilai ulangan sebelumnya.
2. Menentukan nilai tes/kuis yang telah dilaksanakan setelah siswa bekerja dalam kelompok, misal nilai kuis I, nilai kuis II, atau rata-rata nilai kuis I dan kuis II kepada setiap siswa yang kita sebut nilai kuis terkini.
3. Menentukan nilai peningkatan hasil belajar yang besarnya ditentukan berdasarkan selisih nilai kuis terkini dan nilai dasar (awal) masing-masing siswa dengan menggunakan kriteria berikut ini.
Kriteria
Nilai Peringkat
Nilai kuis/tes terkini turun lebih dari 10 poin di bawah nilai awal
5
Nilai kuis/tes terkini turun 1 sampai dengan 10 poin di bawah nilai awal
10
Nilai kuis/tes terkini sama dengan nilai awal sampai dengan 10 di atas nilai awal
20
Nilai kuis/tes terkini lebih dari 10 di atas nilai awal
30
 Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan rata-rata nilai peningkatan yang diperoleh masing-masing kelompok dengan memberikan predikat cukup, baik, sangat baik, dan sempurna
Kriteria untuk status kelompok
Cukup, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok kurang dari 15 (Rata-rata nilai peningkatan kelompok < 15).
Baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok antara 15 dan 20 (15 < Rata-rata nilai peningkatan kelompok < 20)
Sangat baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok antara 20 dan 25 (20 <  Rata-rata nilai peningkatan kelompok < 25)
Sempurna, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok lebih atau sama dengan 25 (Rata-rata nilai peningkatan kelompok > 25)

 Sumber :
  1. Nur dkk.(2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA UNIVERSITY PRESS 
  2. Slavin, Robert E. (1995). Cooperative learning. Theory, Research and Practice, Second Edition. Boston: Allyn and Bacon. 
  3. Sri Wardhani. (2006). Contoh Silabus dan RPP Matematika SMP. Bahan Ajar Diklat di PPPG Matematika, Yogyakarta: PPPG Matematika. 
  4.  Sri Wardhani. (2005). Pembelajaran Matematika Kontekstual. Bahan Ajar Diklat di PPPG Matematika, Yogyakarta: PPPG Matematik 
  5. Widyantini, M.Si.(2006). Model Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Kooperatif. Bahan Ajar pada Diklat di PPPG Matematika, Yogyakarta: PPPG Matematika

Minggu, 03 Juni 2012

Pertumbuhan Fisik Dan Proses Pembelajaran


 A.    Pengertian Pertumbuhan Fisik
Pertumbuhan  adalah suatu proses perubahan fisiologis yang bersifat progresif dan kontinu dan berlangsung dalam periode tertentu. Perubahan ini bersifat kuantitatif dan berkisar hanya pada aspek-aspek fisik individu. Oleh sebab itu secara terminologis sebenarnya tanpa ada tambahan kata “fisik” pun, hanya dengan istilah “pertumbuhan” saja sudah bermakna perubahan pada aspek-aspek fisiologis.
Pertumbuhan itu meliputi perubahan progresif yang bersifat internal maupun eksternal. perubahan internal meliputi perubahan ukuran alat pencernaan makanan, bertambahnya ukuran besar dan berat jantung dan paru-paru, bertambah sempurnanya sistem kelenjar endoktrin/kelamin, dan berbagai jaringan tubuh. Adapun pertumbuhan eksternal meliputi bertambahnya lingkaran tubuh, perbandingan ukuran panjang dan lebar tubuh, ukuran besarnya organ seks, dan tumbuhnya atau munculnya tanda-tanda kelamin sekunder. 

 B.     Pengaruh Pertumbuhan Fisik Terhadap Tingkah Laku
Konsisten dengan konsep dasar bahwa individu merupakan satu kesatuan psiko-fisik yang tidak dapat dipisah-pisahkan, maka pertumbuhan fisik mempunyai pengaruh terhadap tingkah laku. Anak kecil yang baru berumur belasan bulan mungkin sudah dapat berjalan. Namun, karena pertumbuhan otot pada tungkai dan pertumbuhan keseimbangan belum sempurna, jalannya masih terhuyung-huyung dan belum tegap seperti orang dewasa.
Pertumbuhan fisik pada gilirannya akan membawa sampai pada suatu kondisi jasmaniah  yang siap untuk melaksanakan untuk tugas perkembangan secara lebih memadai yaitu kesiapan individu untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan pada periode berikutnya.  Pada gilirannya, terjadilah perubahan tingkah laku progresif yang semakin sempurna. Ilustrasi berikut dapat memberikan gambaran bagaimana pertumbuhan fisik dapat mempengaruhi tingkah laku individu. Pertumbuhan yang semakin sempurna pada otak menyebabkan susunan saraf semakin kompleks dan sistem saraf menjadi lebih sempurna sehingga kemampuan berpikir menjadi lebih tinggi. 

C.    Karakteristik Pertumbuhan Fisik Subjek Didik
Pesatnya pertumbuhan pada remaja sering kali menimbulkan kejutan pada diri remaja itu sendiri. Pakaian yang dimilikinya seringkali menjadi cepat tidak muat dan harus membeli yang baru lagi. Kadang-kadang para remaja dikejutkan oleh perasaan bahwa tangan dan kakinya terlalu panjang sehingga tidak seimbang dengan besar tubuhnya. Pada remaja putri ada perasaan seolah-olah belum dapat menerima kenyataan bahwa tanpa dibayangkan sebelumnya kini buah dadanya membesar. Oleh karena itu, sering kali gerak-gerik remaja menjadi canggung dan tidak bebas. Ganguan dalam bergerak di sebabkan  oleh cepatnya pertumbuhan fisik pada remaja seperti ini dikenal dengan istilah “gangguan regulasi”.
Pada remaja pria pertumbuhan lekum menyebabkan suara remaja menjadi parau atau membesar untuk beberapa waktu. Pertumbuhan kelenjar endoktrin yang telah mencapai taraf kematangan  sehingga mulai berproduksi menghasilkan hormon yang bermanfaat bagi tubuh. Akibatnya remaja mulai tertarik pada lawan jenisnya. Pada waktu tidur karena ketertarikan pada lawan jenis yang disebabkan oleh berkembangnya hormon menyebabkan remaja pria sering mengalami mimpi basah.
Pada remaja putri, perkembangan hormon menyebabkan mereka mengalami menstruasi yang sering kali pada pertama kali mengalaminya menimbulkan kegelisahan. Berproduksinya kelenjar hormon bagi sebagian remaja juga dapat menyebabkan timbulnya jerawat pada bagian wajahnya yang sering kali juga menimbulkan kegelisahan pada mereka, lebih-lebih pada remaja putri. Pertumbuhan fisik yang cepat pada remaja sangat membutuhkan zat-zat pembangun yang diperoleh dari makanan sehingga remaja pada umumnya menjadi pemakan yang kuat. 

D.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Fisik
Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik individu, yaitu:
       1.  Faktor Inrtenal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh individu. Yang termasuk kedalam faktor internal ini adalah:
a.       Sifat jasmaniah  yang diwariskan dari orang tua. Anak yang ayah dan ibunya bertubuh tinggi cenderung lebih cepat menjadi tinggi daripada anak yang berasal dari orang tua yang bertubuh pendek.
b.      Kematangan. Secara sepintas, pertumbuhan fisik seolah-olah seperti sudah direncanakan oleh faktor kematangan. Meskipun anak itu diberi makanan yang bergizi tinggi, tetapi kalau saat kemantangan belum sampai, pertumbuhan itu tetap seperti terangguh. Misanya : anak berumur snbam bulan diberikan makanan yang cukup bergizi supaya pertumbuhan otot-otot pada kaki cepat sampai pada kemampuan untuk berjalan. Ini tidak akan mungkin berhasil karena untuk mampu berjalan harus menunggu sampai umur lebih dari 10 bulan.
      2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri individu. Yang termasuk kedalam faktor eksternal tersebut adalah :
  1. Kesehatan. Anak yang sering sakit-sakitan pertumbuhan fisiknya akan terhambat, sebaliknya anak yang sehat pertumbuhan fisiknya akan lebih bagus. 
  2. Makanan. Anak yang kurang gizi pertumbuhannya akan terhambat, sebaliknya yang ckup gizinya perumbuhannya lancar 
  3. Stimulasi lingkungan.Individu yang sering dilatuh untuk meningkatkan  percepatan pertumbuhannya akan berbeda dengan yang tidak pernah mendapat latihan. 
E.     Perbedaan Individual dalam Pertumbuhan
Faktor-faktor internal dan eksternal yang semuanya ikut mempengaruhi pertumbuhan individu mudah dimengerti bahwa pertumbuhan fisik itu akan sangat bervariasi. Perbedaan faktor keturunan, kondisi kesehatan, gizi makanan dan stimulasi lingkungan menyebabkan perbedaan pertumbuhan fisik individu. Anak yang selalu sehat dengan makanan yang cukup mengandung gizi akan menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat daripada anak yang sering sering sakit-sakitan dan kekurangan gizi. Anak-anak dari ayah dan ibu yang jangkung cenderung lebih cepat tinggi daripada anak-anak yang orang tuanya bertubuh rendah. Pertumbuhan fisik juga menunjukkan perbedaan yang mencolok antara remaja putri dan remaja putra . Pada umumnya pertumbuhan fisik remaja perempuan lebih cepat dari pada remaja laki-laki. Namun demikian pada masa tertentu anak laki-laki menyusul dengan kecepatan melebihi anak perempuan sehingga pada akhirnya anak laki-laki mempunyai tinggi, besar, dan berat badan melebihi anak perempuan. Ini tidak berarti bahwa semua anak laki-laki pasti lebih tinggi dan besar daripada anak perempuan. Sebab ada juga anak perempuan yang tinggi besar dan ada juga anak laki-laki yang pendek dan kecil. 

F.     Proses Pembelajaran untuk Membantu Pertumbuhan Fisik Subjek Peserta Didik
Dalam batas-bata tertentu, proses pembelajaran dapat diselenggarakan sedemikian rupa sehingga dapat membantu percepatan pertumbuhan fisik subjek peserta didik. Dalam proses pembelajaran itu dapat diupayakan berbagai stimulasi secara sistematis, antara lain:
1.      Menjaga kesehatan badan. Kebiasaan hidup sehat, bersih dan olahraga secara teratur akan dapat membantu menjaga kesehatan pertumbuhan tubuh. Namun, bila ternyata masih juga terkena penyakit, haruslah segera kita upayakan agar cepat sembuh. Sebab kesehatan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik.
2.      Memberi makanan yang baik. Makanan yang baik ialah makan yang banyak mengandung gizi, segar, sehat dan tidak tercemar oleh kotoran atau penyakit. Baik-buruknya makanan yang dimakan oleh anak yang menentukan pula kecepatan pertumbuhan fisiknya. Para remaja memerlukan pertumbuhan fisik yang cepat. Oleh karena itu memerlukan zat-zat pembangun yang terdapat dalam makanan sehingga menyebabkan para remaja pada umumnya kuat makan. Jika makanan yang dimakan cukup mengandung gizi makan kebutuhan zat pembangun itu bisa terpenuhi sehingga pertumbuhan menjadi lancar. Sebaliknya jika kebutuhan zat pembangun itu tidak terpenuhi, maka pertumbuhan fisik itu akan menjadi terhambat dan kurang lancar.
3.      Menyediakan sarana dan prasarana. Faktor sarana dan prasarana ini jangan sampai menimbulkan gangguan pada kesehatan anak. Misalnya tempat duduk yang kurang sesuai, ruangan yang gelap dan terlalu sempit, akan menimbulkan gangguan kesehatan. Penyelenggaraan pendidikan modern menghendaki agar tempat duduk anak dan meja dapat diatur sesuai dengan kebutuhan, ruang kelas yang bersih, terang dan cukup luas, serta disiplin yang tidak kaku.
4.      Waktu istirahat. Untuk menghilangkan rasa lelah dan mengumpulkan tenaga baru, istirahat yang cukup sangat diperlukan. Terus menerus bekeja tanpa ada waktu istirahat dapat menimbulkan kelelahan yang mendatangkan kerugian bagi kesehatan. Oleh karena itu, dalam belajar pun penting memperhatikan pengaturan waktu istirahat bagi anak-anak karena dalam belajar dikenal adanya istilah yang disebut “biorama” yang artinya kemampuan anak berkonsentrasi sangat dipengaruhi oleh irama stamina bilogis pada anak itu sendiri. Berkaitan dengan biorama ini ada rumus pengaturan belajar yang dikenal dengan “lima kali dua lebih baik daripada dua kali lima”. Artinya, belajar sebanyak lima kali yang masing-masing berlangsung selama dua jam lebih baik daripada belajar sebanyak dua kali  yang masing-masing berlangsung selama lima jam. Ini berkaitan dengan kemampuan stamina tubuh untuk berkonsentrasi dalam belajar guna menyerap isi yang terkandung dalam materi pembelajaran.
5.      Diadakan jam-jam olahraga bagi para siswa. Pelajaran olahraga sangat penting bagi pertumbuhan fisik anak, karena dengan olahraga yang dijadwalkan secara teratur oleh sekolah berarti pertumbuhan fisik anak akan memperoleh stimulasi secara teratur pula. 
Artikel Terkait Klik Disini!
Sumber :
Mohammad Asrori, (2008), Psikologi Pembelajaran. Bandung : CV Wacana Prima