"SELAMAT DATANG DI BLOG 007INDIEN SEMOGA MENDAPATKAN SESUATU YANG BERMANFAAT DI BLOG INI"

Selasa, 26 Juni 2012

Konsep Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) Bag. 2


 D.    Implementasi Stategi Contextual Teaching and Learning
Ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari pembelajaran kontekstual dikelas (Nurhadi, 2003:31). Sebuah kelas dapat dikatakan melakukan pembelajaran kontekstual jika menerapkan tujuh pokok tersebut. dan penerapanya dalam kelas tidak sulit. Kontekstual dapat diterapkan pada mata pelajaran apa saja. Penerapan tujuh kompenen tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Konstruktivisme (Construktivism).
Dalam pandangan ini strategi yang diperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Karena itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara:
a.       menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa;
b.      memberi kesempatan pada siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri; dan
c.  menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
2.      Menemukan (Inquiry).
Inquiry pada dasarnya adalah cara menyadari apa yang dialami. Metode inquiry memberi peluang kepada peserta didik untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Pada dasarnya siswa ditantang untuk mencari, melakukan, dan menentukan sendiri. Jadi siswa lebih produktif bukan reproduktif. Dalam menerapkan strategi Contextual Teaching And Learnig, tugas guru adalah menciptakan suasana pembelajaran yang efektif.
Seorang guru mampu membelajarkan siswa secara aktif jika :
a.    Mampu menciptakan kondisi yang benar, berarti: bangun dan ciptakan suasana yang positif antara guru dan murid, visualisasikan tujuan, tentukan hasil sasaran, anggaplah kesalahan adalah umpan balik, ciptakan lingkungan belajar menarik dan menyenangkan bagi anak.
b.      Presentasi singkat dan benar.
c.       Berpikir kreatif.
d.      Ekspresikan.
e.       Praktikkan.
f.       Lakukan evaluasi secara berkelanjutan.
Salah satu strategi pembelajaran, yang sampai sekarang masih tetap dianggap sebagai strategi yang cukup efektif adalah Metode inquiry. Inquiry merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu. Dengan kata lain, inquiry berkaitan dengan aktivitas dan keterampilan aktif yang focus pada pencarian pengetahuan atau pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu.
Alasan rasional penggunaan Metode inquiry adalah bahwa siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai matematika dan akan lebih tertarik terhadap matematika jika mereka dilibatkan secara aktif dalam "melakukan" matematika. Investigasi yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang punggung strategi inquiry. Investigasi ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep matematika dan meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiah siswa. Diyakini bahwa pemahaman konsep merupakan hasil dari proses berfikir ilmiah tersebut.
Metode inquiry yang mensyaratkan keterlibatan aktif siswa terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap sains dan matematika. Metode inquiry membantu perkembangan antara lain scientific literacy dan pemahaman proses-proses ilmiah, pengetahuan vocabulary dan pemahaman konsep, berpikir kritis, dan bersikap positif. Dapat disebutkan bahwa Metode inquiry tidak saja meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dalam matematika saja, melainkan juga membentuk sikap keilmiahan dalam diri siswa.
Metode inquiry merupakan Metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan Metode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan.
Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi.
Walaupun dalam praktiknya aplikasi metode inquiry sangat beragam, tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat menurut Nurhadi (2003:72) bahwa pembelajaran dengan metode inquiry memiliki 5 komponen yang umum  yaitu Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance Evaluation, dan Variety of Resources.
Berikut ini penjelasan dari ke-5 komponen inquiry yang disampaikan oleh Nurhadi:
1.      Question.
Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu fenomena. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya, yang dimaksudkan sebagai pengarah ke pertanyaan inti yang akan dipecahkan oleh siswa.
Selanjutnya, guru menyampaikan pertanyaan inti atau masalah inti yang harus dipecahkan oleh siswa. Untuk menjawab pertanyaan ini – sesuai dengan Taxonomy Bloom - siswa dituntut untuk melakukan beberapa langkah seperti evaluasi, sintesis, dan analisis. Jawaban dari pertanyaan inti tidak dapat ditemukan misalnya di dalam buku teks, melainkan harus dibuat atau dikonstruksi.
2.      Student Engangement
Dalam metode inquiry, keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator. Siswa bukan secara pasif menuliskan jawaban pertanyaan pada kolom isian atau menjawab soal-soal pada akhir bab sebuah buku, melainkan dituntut terlibat dalam menciptakan sebuah produk yang menunjukkan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari atau dalam melakukan sebuah investigasi.
3.      Cooperative Interaction
Siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja berpasangan atau dalam kelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan. Dalam hal ini, siswa bukan sedang berkompetisi. Jawaban dari permasalahan yang diajukan guru dapat muncul dalam berbagai bentuk, dan mungkin saja semua jawaban benar.
4.      Performance Evaluation
Dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa diminta untuk membuat sebuah produk yang dapat menggambarkan pengetahuannya mengenai permasalahan yang sedang dipecahkan. Bentuk produk ini dapat berupa slide presentasi, grafik, poster, karangan, dan lain-lain. Melalui produkproduk ini guru melakukan evaluasi.
5.      Variety of Resources.
Siswa dapat menggunakan bermacam-macam sumber belajar, misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara dengan ahli, dan lain sebagainya.
Metode “inquiry” merupakan metode mengajar yang berusaha meletakkan dasar dan mengembangkan cara berpikir ilmiah. Metode ini menempatkan siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreatifitas dalam pemecahan masalah. Siswa betul-betul ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam strategi inquiry adalah pembimbing belajar dan fasilitator belajar. Tugas utama adalah memilih masalah yang perlu dilontarkan kepada kelas untuk dipecahkan oleh siswa sendiri. Tugas berikutnya dari guru adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka pemecahan masalah.
Metode inquiry dalam mengajar termasuk strategi modern, yang sangat didambakan untuk dilaksanakan di setiap sekolah. Adanya tuduhan bahwa sekolah menciptakan kultur bisu, tidak akan terjadi apabila strategi ini digunakan. Metode inquiry dapat dilaksanakan apabila dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut..
a)  Guru harus terampil memilih persoalan yang relevan untuk diajukan  kepada kelas dan sesuai dengan daya nalar siswa
b) Guru harus terampil menumbuhkan motivasi belajar siswa dan menciptakan situasi belajar yang menyenangkan,
c)    Adanya fasilitas dan sumber belajar yang cukup,
d)  Adanya kebebasan siswa untuk berpendapat, berkarya, dan berdiskusi,
e)    Partisipasi setiap siswa dalam setiap kegiatan belajar, dan

f)   Guru tidak banyak campur tangan dan intervensi terhadap kegiatan siswa.
Ada lima tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan strategi inquiry yakni:
a)    Perumusan masalah untuk dipecahkan siswa
b)  Menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis,
c)  Siswa mencari informasi, data, dan fakta yang diperlukan untuk menjawab permasalahan, Menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi, dan
d)     Mengaplikasikan kesimpulan dalam situasi baru.

3.      Bertanya (Questioning).
Bertanya (questioning) adalah induk dari strategi pembelajaran kotekstual, awal dari pengetahuan, jantung dari pengetahuan, dan aspek penting dari pembelajaran12. Orang bertanya karena ingin tahu, menguji, mengkonfirmasi, mengapersepsi, mengarahkan atau menggiring, mengaktifkan skemata, mengklarifikasi, memfokuskan, dan menghindari kesalahpahaman. Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang, selalu dimulai dari ‘pertanyaan’. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegitan bertanya berguna untuk:
a)      menggali informasi, baik administrasi maupun akademis;
b)      mengecek pemahaman siswa;
c)      memecahkan persoalan yang dihadapi;
d)     membangkitkan respon kepada siswa;
e)      mengetahui sejauhmana keingintahuan siswa;
f)       mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa;
g)      memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru;
h)      untuk membangkitkan lebih banyak pertanyaan dari siswa; dan
i)        untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

 4.      Masyarakat Belajar (Learning Community).
Dalam masyarakat-belajar, hasil pembelajaran dapat diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, dan antar mereka yang tahu kepada mereka yang belum tahu. Pada dasarnya, learning community atau masyarakat-belajar itu mengandung arti sebagai berikut.
a)      Adanya kelompok belajar yang berkomunikasi untuk berbagi gagasan dan pengalaman.
b)      Adanya kerjasama untuk memecahkan masalah.
c)      Pada umumnya kerja kelompok lebih baik daripada kerja sendiri.
d)     Ada rasa tangggung jawab kelompok.
e)      Adanya fasilitator/guru yang memandu proses belajar dalam kelompok.
f)       Ada kemauan untuk menerima pendapat yang lebih baik.
g)      Adanya kesediaan untuk menghargai pendapat orang lain.
h)      Dominasi siswa yang pintar perlu diperhatikan agar yang lambat bisa juga berperan. Siswa bertanya kepada teman-temannya itu sudah mengandung arti learning comunity.
Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap orang lain bisa menjadi sumber belajar Berarti setiap orang akan sangat kaya dengan pengetahauan dan pengalaman. Strategi pembelajaran dengan Teknik “learning comunity” ini sangat membantu proses belajar dikelas. Praktiknya dalam belajar terwujud adalah:
a)      Bekerja dalam pasangan;
b)      Pembentukan kelompok kecil;
c)      Pembentukan kelompok besar;
d)     Mendatangkan ahli kedalam kelas (tokoh, dokter, polisi, dan sebagainya);
e)      Bekerja dengan kelas sederajat;
f)       Bekerja kelompok dengan kelas diatasnya;
g)      Bekerja dengan sekolah diatasnya; dan;
h)      Bekerja dengan masyarakat.

5.      Pemodelan (modeling).
Pemodelan pada dasarnya adalah membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemostrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. Dengan kata lain, model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olah raga, contoh karya tulis, cara melafalkan bahasa Inggris, dan sebagainya. Atau, guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Dengan begitu, guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar”.
Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa dapat ditunjuk untuk memberikan contoh temannya cara melafalkan suatu kata. Jika kebetulan ada siswa yang pernah memenangkan lomba baca puisi atau memenangkan kontes bahasa Inggris, siswa itu dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya. Model juga dapat dihadirkan dari luar, seorang ahli bahasa inggris atau seorang bule didatangkan di tengah-tengah kelas untuk mempraktikkan bahasa dan logat asli bahasa Inggris.

 6.      Refleksi (reflection).
Refleksi merupakan cara berfikir tentang sesuatu yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu. Refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan yang baru saja diterima. Siswa mengendapkan apa yang baru saja diterimanya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Misalnya, ketika pelajaran berakhir, siswa merenung “kalau begitu, cara saya menyimpan file selama ini salah, ya! Mestinya, dengan cara yang baru dipelajari ini, file komputer saya lebih tertata”. Guru perlu melaksanakan refleksi pada akhir program pengajaran serta menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. Refleksinya berupa :
a)      pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu;
b)      catatan atau jurnal di .buku siswa;
c)      kesan dan saran siswa mengenai pelajaran hari itu;
d)     diskusi;
e)      hasil karya; dan
f)   cara-cara lain yang ditempuh guru untuk mengarahkan siswa kepada pemahaman mereka tentang materi yang dipelajari.

 7.      Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment).
Penilaian autentik adalah prosedur penilaian pada pembelajaran kontekstual. Prinsip yang dipakai dalam penilaian serta ciri-ciri penilaian autentik adalah sebagai berikut:
a)  Harus mengukur semua aspek pembelajaran: proses, kinerja, dan produk.
b)   Dilaksanakan selama dan sesudah proses belajaran berlangsung.
c)   Menggunakan berbagai cara dan berbagai sumber.
d)  Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian.
e) Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa harus mencerminkan bagianbagian kehidupan siswa yang nyata setiap hari, mereka harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakuakan setiap hari.
f)  Penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian siswa. 
Secara ringkas tujuh pilar CTL dan pendekatan pembelajaran tradisional dapat disusun dalam tabel berikut (Suparno, 1997:54) :
Tabel 2 : Perbandingan Pendekatan CTL dengan Pendekatan Tradisional
No.
Pilar/Solusi, Indikator Masalah
Pendekatan CTL
Pendekatan Tradisional
1
Konstruktivisme
Belajar berpusat pada siswa untuk mengkonstruksi bukan menerima
Belajar yang berpusat pada guru, formal, serius
2
Inquiri
Pengetahuan diperoleh dengan menemukan, menyatukan rasa, karsa dan karya
Pengetahuan diperoleh siswa dengan duduk manis, mengingat seperangkat fakta, memisahkan kegiatan fisik dengan intelektual
3
Bertanya
Belajar merupakan kegiatan produktif, menggali informasi, menghasilkan pengetahuan dan keputusan
Belajar adalah kegiatan konsumtif, menyerap informasi menghasilkan kebingungan dan kebosanan
4
Masyarakat Belajar
Kerjasama dan maju bersama, saling membantu
Individualistis dan persaingan yang melelahkan
5
Pemodelan
Pembelajaran yang Multi ways, mencoba hal – hal baru, kreatif
Pembelajaran yang One way, seragam takut mencoba, takut salah
6
Refleksi
Pembelajaran yang komprehensif, evaluasi diri sendiri/internal dan eksternal
Pembelajaran yang terkotak – kotak, mengandalkan respon eksternal/guru
7
Penilaian Otentik
Penilaian proses dan hasil, pengalaman belajar, tes dan non tes multi aspects
Penilaian hasil, paper and pencil test, kognitif
 


E. Konstruktivisme Sebagai Konsep Contextual Teaching and Learning Menurut Jean Piaget
Dalam pandangan kontruktivisme, pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman. Pemahaman berkembang semakin dalam dan kuat apabila selalu diuji oleh berbagai macam pengalaman baru. Menurut Piaget, manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti sebuah kotak-kotak yang masing-masing mempunyai makna yang berbeda-beda. Pengalaman yang sama bagi seseorang akan dimaknai berbeda oleh masing-masing individu dan disimpan dalam kotak yang berbeda. Setiap pengalaman baru akan dihubungkan dengan kotak-kotak atau struktur pengetahuan dalam otak manusia. Oleh karena itu, pada saat manusia belajar, menurut Piaget, sebenarnya telah terjadi dua proses dalam dirinya, yaitu proses organisasi informasi dan proses adaptasi
Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang memerintahkan manusia untuk selalu menggunakan akal dalam memahami dan merenungi segala ciptaan dan kebesaran Allah di alam ini. Di samping itu, agar akal digunakan untuk berfikir dan mempertimbangkan segala perbuatan yang dilakukan oleh diri manusia. Allah SWT berfirman:


Artinya:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia tinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan”. (QS. Al- Ghasyiyah: 17-20)
 Proses organisasi adalah proses ketika manusia menghubungkan informasi yang diterimanya dengan struktur-struktur pengetahuan yang sudah disimpan atau sudah ada sebelumnya dalam otak. Melalui proses organisasi inilah, manusia dapat memahami sebuah informasi tersebut dengan struktur pengetahuan yang sudah dimilikinya, sehingga manusia dapat mengakomodasikan informasi atau pengetahuan tersebut. Proses adaptasi adalah proses yang berisi dua kegiatan.  Pertama, menggabungkan atau mengintegrasikan pengetahuan yang diterima oleh manusia atau disebut dengan asimilasi. Kedua, mengubah struktur pengetahuan baru, sehingga akan terjadi keseimbangan (equilibrium).

F.      Langkah-Langkah Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
            Tahapan-Tahapan Pembelajaran CTL
Cara mengaplikasikan CTL dalam proses pembelajaran, di bawah ini disajikan contoh penerapannya. Dalam contoh tersebut dipaparkan bagaimana guru menerapkan pembelajaran dengan pola konvensional dan dengan pola CTL. Hal ini dimaksudkan agar dapat memahami perbedaan penerapan kedua pola pembelajaran tersebut.
Misalkan pada suatu hari guru akan membelajarkan anak tentang bangun datar sederhana. Kompetensi yang harus dicapai adalah kemampuan anak untuk memahami jenis-jenis bangun datar sederhana. Untuk mencapai kompetensi tersebut dirumuskan beberapa indikator hasil belajar:


  1. Siswa dapat menjelaskan pengertian bangun datar sederhana. 
  2. Siswa dapar menjelaskan jenis-jenis bangun datar sederhana. 
  3. Siswa dapat menjelaskan perbedaan karakteristik antara bangun persegi panjang dengan bangun jajar genjang.
  4. Siswa dapat menyimpulkan tentang jenis bangun datar sederhana.
  5. Siswa bisa membuat gambar yang ada kaitannya dengan bangun datar sederhana.


Perhatikan perbedaan penerapan model pembelajaran konvensional dan pembelajaran CTL berikut ini:
1)      Pola Pembelajaran Konvensional
Untuk mencapai tujuan kompetensi di atas, mungkin guru menerapkan strategi pembelajaran sebagai berikut:
  1. Siswa disuruh untuk membaca buku tentang bangun datar sederhana.
  2. Guru menyampaikan materi pelajaran sesuai dengan pokok-pokok materi pelajaran seperti yang terkandung dalam indikator hasil belajar. 
  3. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya manakala ada hal-hal yang dianggap kurang jelas (diskusi).
  4. Guru mengulas pokok-pokok materi pelajaran yang telah disampaikan dilanjutkan dengan menyimpulkan.
  5. Guru melakukan post-tes evaluasi sebagai upaya untuk mengecek terhadap pemahaman siswa tentang materi pelajaran yang telah disampaikan. 
  6. Guru menugaskan kepada siswa untuk membuat gambar sederhana sesuai dengan tema “bangun datar sederhana”.
     Dari model pembelajaran seperti yang telah dijelaskan di atas, maka tampak bahwa proses pembelajaran sepenuhnya ada pada kendali guru. Siswa diberi kesempatan untuk mengeksplorasi. Pengalaman belajar siswa terbatas, hanya sekedar mendengarkan. Mungkin terdapat pengembangan proses berfikir, tetapi proses tersebut sangat terbatas dan terjadi pada proses berfikir taraf rendah. Melalui pola pembelajaran semacam itu, maka jelas faktor-faktor psikologis anak tidak berkembang secara utuh, misalnya mental dan motivasi belajar siswa.

            2 )Pola pembelajaran CTL
Untuk mencapai kompetensi yang sama dengan menggunakan CTL guru melakukan langkah-langkah pembelajaran seperti di bawah ini.
a)      Pendahuluan
1.    Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi palajaran yang akan dipelajari.
2.   Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL:
·    Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa;
· Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi; misalnya kelompok 1 dan 2 melakukan observasi ke perpustakaan, dan kelompok 3 dan 4 melakukan observasi ke laboratorium komputer;
·    Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai bangun datar sederhana hal yang ditemukan di ruangan tersebut tersebut.
3.   Guru melakukan Tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap siswa.
                   b)      Inti
            Di lapangan
1.      Siswa melakukan observasi ke ruangan sesuai dengan pembagian tugas kelompok.
2.      Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan di ruangan sesuai dengan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya.
Di dalam kelas
3.      Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing.
4.      Siswa melaporkan hasil diskusi.
5.      Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain.
                   c)      Penutup
1. Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah bangun datar sederhana sesuai dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai.
2. Guru menugaskan siswa untuk membuat gambar tentang pengamatan mereka dengan tema “bangun datar sederhana”.
Apa yang dapat kita tangkap dari pembelajaran dengan menggunakan CTL? Pada CTL untuk mendapatkan kemampuan pemahaman konsep, anak mengalami langsung dalam kehidupan nyata di masyarakat. Kelas bukanlah tempat untuk mencatat atau menerima informasi dari guru, akan tetapi kelas digunakan untuk saling membelajarkan. Menurut Wina Sanjata (2006:256) ada beberapa catatan dalam penerapan CTL sebagai suatu strategi pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
  1. CTL adalah strategi pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental.
  2. CTL memandang bahwa belajar bukan menghafal, akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata. 
  3. Kelas dalam pembelajaran CTL bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan. 
  4. Materi pelajaran ditemukan oleh siswa sendiri, bukan hasil pemberian dari orang lain.
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.
  1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya 
  2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topic
  3. kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
  4. Ciptakan masyarakat belajar 
  5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran 
  6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan 
  7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai

G.    Peran Guru dan Siswa dalam CTL
Setiap siswa mempunyai gaya yang berbeda dalam belajar. Perbedaan yang dimiliki siswa tersebut oleh Bobbi Deporter (1992) dalam bukunya Wina Sanjaya dinamakan sebagai unsur modalitas belajar. Menurutnya ada tiga tipe gaya belajar siswa, yaitu tipe visual, auditorial, dan kinestetis.
Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap guru perlu memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa. Dalam proses pembelajaran konvensional, hal ini sering terlupakan sehingga proses pembelajaran tak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak, yang menrut Paulo Freire sebagai system penindasan.
Sehubungan dengan hal itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan pendekatan CTL.
  1. Siswa dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, melainkan organisme yang sedang berada dalam tahap-tahap perkembangan. Kemampuan belajar akan sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pengalaman mereka. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau “penguasa” yang memaksakan kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka bias belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
  2. Setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan. Kegemaran anak adalah mencoba hal-hal yang dianggap aneh dan baru. Oleh karena itulah belajar bagi mereka adalah mencoba memecahkan setiap persoalan yang menantang. Dengan demikian, guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh siswa. 
  3. Belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal-hal yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui. Dengan demikian, peran guru adalah membantu agar setiap siswa mampu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya.
  4. Belajar bagi anak adalah proses menyempurnakan skema yang telah ada (asimilasi) atau proses pembentukan skema baru (akomodasi), dengan demikian tugas guru adalah memfasilitasi (mempermudah) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi.
H.    Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL
Adapun beberapa kelebihan dari pembelajaran Kontekstual adalah:
  1. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan. 
  2. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”. 
  3. Kontekstual adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental 
  4. Kelas dalam pembelajaran Kontekstual bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan
  5. Materi pelajaran dapat ditemukan sendiri oleh siswa, bukan hasil pemberian dari guru 
  6. Penerapan pembelajaran Kontekstual dapat menciptakan suasana pembelajaran yang  bermakna
Sedangkan kelemahan dari pembelajaran Kontekstual adalah sebagai berikut:
  1. Diperlukan waktu yang cukup lama saat proses pembelajaran Kontekstual berlangsung 
  2. Jika guru tidak dapat mengendalikan kelas maka dapat menciptakan situasi kelas yang kurang kondusif 
  3. Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam metode CTL,  guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ”penguasa” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
  4. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.
        BAB III
KESIMPULAN

  1. Pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Melalui proses penerapan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik akan merasakan pentingnya belajar, dan akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipejarinya. Pembelajaran Kontekstual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat 
  2. Teori belajar yang melandasi pembelajaran kontekstual adalah teori belajar konstruktivisme. Teori konstruktivis mengemukakan bahwa proses belajar sebagai usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proes asimilasi dan akomdasi, akan membentuk suatu konstruksi pengetahuan yang menuju kepada kemutakhiran struktur kognitifnya. Guru-guru konstruktivistik yang mengakui dan menghargai dorongan diri manusia/siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, kegatan pembelajaran yang dilakukannya akan diarahkan agar terjadi aktivitas konstruksi pengetahuan oleh siswa secara optimal. 
  3. Proses pembelajaran dengan menggunakan CTL harus mempertimbangkan fakto-faktor penting berikut ini (1) kerja sama, (2) saling menunjang, (3) menyenangkan dan tidak membosankan, (4) belajar dengan bergairah, (5) pembelajaran terintegrasi, (6) menggunakan berbagai sumber, (7) siswa aktif, (8) sharing dengan teman, (9) siswa kritis guru kreatif, (10) dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, (11) laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan praktikum, karangan siswa, dan lain-lain.
  4. Sistem CTL adalah proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan jalan menghubungkan mata pelajaran akademik dengan isi kehidupan sehari-hari, yaitu dengan konteks kehidupan sehari-hari. 
  5. Dalam CTL terdapat tujuh  komponen penting yang tidak bisa dipisahkan  yaitu konstruktivisme, inkuiri, Question (bertanya), masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Alchaedar, Alwasilah. 2007., Contextual Teaching and Learning.Bandung : Mizan Learning Center
Baharudin dan Wahyuni, Esa Nur. 2007. Teori Belajar Dan Pembelajaran. Jogjakarta : Ar- Ruzz Media Group.
Hanafiah, Nanang & Cucu Suhana .2009.Konsep Strategi Pembelajaran, Bandung, Refika Aditama.
Johnson, Elaine B..2007. Contextual teaching and learning, Penerjemah: Ibnu Setiawan, Bandung, Mizan Learning Center.
Nurhadi, Dkk. 2003. Pembelajaran Kontekstual Dan Penerapanya Dalam KBK. Malang : UM Press
Rusman.2009.Manajemen Kurikulum, Jakarta: Rajawali Pers
Saefudin Sa’ud, Udin.2008. Inovasi Pendidikan, Bandung:Alfabeta.
Sagala, Syaiful.2005. Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung, Alfabeta
Sanjaya, Wina .2008. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis kompetensi, Jakarta,  Kencana
Suparno, Paul. 1997. Filsafat Kontruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.
Wina Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana, 
 Untuk Melihat Bagian I Klik Disini!