"SELAMAT DATANG DI BLOG 007INDIEN SEMOGA MENDAPATKAN SESUATU YANG BERMANFAAT DI BLOG INI"

Rabu, 14 Desember 2011

Pendidikan dan Modernisasi


A.    PERUBAHAN PENDIDIKAN DAN MODERNISASI
Perubahan pendidikan terjadi karena karena adanya pengaruh-pengaruh yang saling memperkuat yang akhirnya melakirkan sesuatu yang baru. Perubahan pendidikan dapat terjadi karena adanya tenaga yang mendorong/tenaga pendorong yang bersal dari dalam masyarakat sendiri misalnya karena adanya penemuan-penemuan sosial, tetapi dapat pula dari luar, misalnya karena adanya pengaruh kebudayaan asing.
Perubahan yang menimbulkan situasi sosial dipandang sebagai perkembangan, erat kaitannya dengan perubahan dan perkembangan pendidikan adalah pembaharuan pendidikan, pembaharuan pendidikan merupakan perubahan pendidikan yang berdasar atas usaha-usaha sadar, terencana, berpola dalam pendidikan yang bertujuan untuk mengarahkan.[1]

a.      Konsep Pendidikan
1.      Education is the getting and giving of knowladge so as to pass on our culture from one generation on the next.[2]
(Pendidikan adalah kegiatan memperoleh dan menyampaikan pengetahuan, sehingga memungkinkan transmisi kebudayaan kita dari generasi yang satu kepada yang berikutnya).
Konsep pendidikan di atas mengangkat derajat manusia sebagai makhluk budaya, yaitu makhluk yang diberkati kemampuan untuk menciptakan nilai kebudayaan, dan fungsi budaya dari pendidikan adalah kegiatan melantarkan nilai-nilai kebudayaan dari generasi yang satu ke generasi berikutnya.
Pendidikan sebagai proses adalah suatu kegiatan memperoleh dan menyampaikan pengetahuan tentang kebudayaan, sedang pengetahuan adalah rumpun informasi-informasi tentang kebudayaandengan segala segidan aspeknya. 
 2.      Education is the process by which the individual is taught loyalty and conformity by which the human mind is disciplined and developed.
(pendidikan adalah proses dengan mana individu diajar bersikap setia dan taat dengan mana pikiran manusia ditera dan dibina).
Konsep pendidikan ini menekankan betapa pentingnya dan kuatnya peranan pendidikan dalam pembinaan manusia. Pendidikan diartikan sebagai proses pembinaan sikap mental dengan jalan atau cara melatih dan mengembangkannya kea rah nilai sikap kesetiaan dan ketaatan. Dengan kata lain pendidikan adalah suatu kegiatan pembinaan sikap mental yang akan menentukan tingkah lakunya.
 3.      Education is a process of growth in which the individual is helped to developed his power, his talents, his abilities, and his interests.
(Pendidikan adalah suatu proses pertumbuhan di dalam mana individu diberi pertolongan untuk mengembangkan kekuatan, bakat kemampuan dan minatnya).
Rumusan pendidikan di atas menjelaskan asas penting dalam filsafat pendidikan bahwa konep pendidikan relatif ditentukan konsep tentang sifat hakekat manusia, yang dalam rumus di atas aspek-aspek sifat hakekat psikologis manusia terdiri atas empat aspek, yaitu kekuatan, bakat, kemampuan dan minat kepentingannya. Suatu hal yang tidak dapat dilupakan bahwa konsep sifat hakekat manusia tidak dapat dilepaskan dari dasar-dasar filsafat pendidikannya.
 4.  Education is the reconstruction and reorganization of experiences which adds to the meaning of experiences and which increases ability to direct the course of subsequent experiences.
(pendidikan adalah pembangunan kembali atau penyusunan kembali pengalaman, sehingga memperkaya arti pembendaharaan pengalaman yang dapat meningkat kemampuan dalam menentukan arah tujuan pengalaman selanjutnya).
Defenisi pendidikan ini menentukan proses pendidikan adalah proses dari dalam diri pribadi manusia, yaitu suatu kemampuan untuk memugar dan meremajakan pengalaman sehingga memungkinkan individu secara kontinu tumbuh berkembang.
Pendidikan diartikan sama dengan pertumbuhan, selama dalam diri manusia terjadi peristiwa pertumbuhan, maka selama itu pula terjadi peristiwa pendidikan. Untuk apa dan arah mana kegiatan proses pendidikan tidak dapat ditentukan terlebih dahulu dan relative ditentukan oleh perbendaharaan pengalaman hidup yang dimiliki oleh masing-masing individu.
Dengan demikian pendidikan tidak dibatasi oleh sesuatu yang di luar prose situ sendiri yaitu pertumbuhan yang terus menerus, sehingga merupakan proses sepanjang hidup tanpa dibatasi oleh usia dan tujuan pendidikan yang terlebih dahulu ditentukan secara pasti.   
 5.      Education is the process by which a person is adjusted to those elements of his environment which are of concern in modern life so as to prepare his successful adult living.
(Pendidikan adalah proses dengan mana seseorang diberi kesempatan menyesuaikan diri terhadap aspek-aspek kehidupan lingkungan yang berkaitan dengan kehidupan modern untuk memperiapkan agar berhasil dalam kehidupan orang dewasa.
Rumus pendidikan di atas menetapkan bahwa pendidikan adalah proses yang diawali dengan kegiatan mengantarkan seseorang mengadakan perubahan penyesuaian terhadap unsur-unsur lingkungan yang ada sangkut pautnya dengan kehidupan modern. Aspek-aspek kehidupan yang klasik tradisional harus dilempar jauh dari horizon pemikiran dan minat perhatiannya. Suatu konsep pendidikan yang lebih berorientasi pada masa kini dan masa yang akan datang, sehingga dapat dikategorikan pada pola sikap mental yang menghormati tradisi yang tradisi. 

b.      Sumber Sosial Problema Pendidikan
Sesuai dengan pembahasan tentang pendekatan sosiologi pendidikan dan dalil-dalil pendidikan dalam hubungannya dengn perubahan sosial masyarakat, maka pada suatu ketika kita akan mengadakan penilaian tentang kemajuan sistem persekolahan suatu hal yang diharapkan agar faktor-faktor di luar gedung sekolah yaitu faktor-faktor sosial harus dipertimbangkan dalam penilaiannya.
Oleh sebab pendekatan sistem menetapkan bahwa sumber-sumber sosial tidak jarang menyebabkan problema-problema pendidikan dan dapat pula menunjang perkembangan kemajuan sekolah.
 1.      Faktor-faktor sosial dari kemajuan murid[3]
Faktor-faktor ini terdiri dari:
-          Faktor pertama bakat, minat dan cirri atau sifat karakteristik anal dapat menentukan motivasi belajar mereka rendah, tinggi atau sedang.
-     Faktor kedua adalah keadaan keluarga pelajar, seperti jumlah saudara, tingkat status sosial, akademis dan ekonomis, dan pola pendidikan dalam keluarga, serta sikap orang tua terhadap pendidikan.
-      Faktor sosial ketiga yang menyebabkan maju mundurnya perkembangan pendidikan anak di sekolah adalah faktor masyarakat kelompok sebaya dengan siapa anak-anak mengadakan kegiatan di luar sekolah dan keluarga.
-     Faktor sosial keempat yaitu pemujaan anak pada pribadi atau tokoh sosial di luar keluarga dan sekolah anak. Tokoh atau pribadi ini disebut pribadi acuan kepada siapa anak akan mengidentifikasikan diri, menyesuaikan diri atau akan mengadakan perubahan penyesuaian tingkah laku mereka.
-          Faktor sosial kelima yang menentukan kemajuan murid di sekolah adalah tinggi rendahnya dan berat ringannya beban bahan pelajaran yang dituntut oleh guru.
 2.      Faktor sosial dari kemajuan guru
Faktor-faktor ini terdiri dari:
-      Kemajuan pelaksanaan tugas-tugas guru dalam lembaga pendidikan formal sekolah antara lain seperti sifat karakteristik murid, personalia administrative, orang tua murid, keluarga guru dan organisasi profesi guru di dalam masyarakat.
-   Kemajuan guru ditentukan pula oleh faktor kedua yaitu kebijaksanaan dan tuntutan serta relasi personalia administratif pendidikan dan ini meliputi kebijakan tentang pertumbuhan jabatan guru, apakah didasarkan atas masa kerja atau hasil karya mereka.
-  Hubungan guru dengan orang tua merupakan faktor ketiga, yang pada dasarnya memberikan pelayanan kepada keluarga atau orang tua.
-    Keadaan keluarga guru, yaitu kondisi kesehatan, sosial psikologis serta kesejahteraan ekonomi, merupakan penghalang atau faktor sosial yang mempengaruhi kemajuan pelaksanaan tugas guru.
 
3.      Faktor sosial dari kemajuan sekolah 
Faktor-faktor ini terdiri dari:
-      Faktor sosial yang mempengaruhi kemajuan sekolah adalah sumber-sumber dana yang tersedia dalam masyarakat dan yang disediakan bagi pembangunan sistem persekolahan.
-      Struktur susunan status sosial, kelas ekonomi, kelompok ras dan suku bangsa adalah faktor kedua yang menetukan kemajuan sekolah.
-       Beberapa faktor lain yang tidak kurang pentingnya adalah keadaan stabil atau lebih penghuni suatu daerah tertentu, pengolahan sistem sekolah yang baik atau tidak, dan terutama pada lembaga pendidikan sekolah mengeah atas ke bawah, yaitu terdapat tidaknya lembaga pendidikan guru di sekitar daerah di mana sekolah didirikan. 

c.       Teori Modernisasi
Pada hakikatnya daya pikir dari teori modernisasi lebih berorientasi pada pembentukan mentalitas baru bagi manusia di negara-negara berkembang. Dengan menempa kesadaran manusia agraris agar menerima pola pikir barat yang cenderung “rasional instrumental” maka konsepsi modernisasi menjadi komoditi di kalangan masyarakat yang menempatkan mentalitas sebagai penyebab perubahan. Karena modernisasi merupakan budaya yang berasal dari barat maka modernisasi tidak lepas dari keberadaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Di dalam masyarakat lalu konsepsi modernisasi berkembang menjadi asumsi yang tidak usah dipertanyakan lagi kebenarannya. Gambaran kematangan masyarakat menurut teori modernisasi, dilukiskan sebagai sebuah model linear yang bergerak ke arah masyarakat industri. Masyarakat industri dalam teori modernisasi dibangun dengan orientasi masa depan yang lebih baik. Kematangan masyarakat menuju masyarakat industri, memiliki bentuk transisi yang cukup panjang dan lama dalam bentuk orientasi sekarang.
Dalam masyarakat transisi bentuk rasionalitas yang diharapkan belum muncul sebagai potensi utama, sebab modernisasi baru direspons sebagai ‘kekaguman’ bentuk luar dari kebudayaan barat. Namun, sebagian besar masyarakat di negara berkembang telah melihat bahwa tradisi yang dimilikinya secara turun temurun merupakan sejumlah faktor yang menghambat kemajuan. Tradisi ditempatkan sebagai lawan pola pikir modernisasi yang sangat rasional. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa modernisasi yang menggejala di negara berkembang tidak memperhatikan budaya lokal dan tercerabut dari ekologi murni masyarakat asli, oleh karena itu bersifat historis.
Dalam teori modernisasi, indikator tingkat kemodernan masyarakat adalah pada nilai dan sikap hidup maupun sistem ekonomi yang menghidupinya. Sementara untuk membedakan manusia modern dan manusia tradisional adalah pada orientasi masa depannya. Tampaknya teori-teori modernisasi bertolak dari landasan material yang kuat, suatu bentuk eksploitasi manusia dan alam lingkungan yang berorientasi pada kelimpahan material.





d.      Perubahan Sosial dan Pendidikan
Sejalan dengan penjelasan perubahan sosial di atas maka sebenarnya di manakah letak posisi pendidikan. Dalam hal ini kita mengingat penuturan Eisentandt dalam Faisal dan Yasik (1985) institusionalisasi merupakan proses penting untuk membantu berlangsungnya transformasi potensi-potensi umum perubahan sehingga menjadi kenyataan sejarah. Pendidikan adalah suatu institusi pengkonservasian yang berupaya menjembatani dan memelihara warisan budaya suatu masyarakat.
Melihat perkembangan masyarakat yang sering dilanda perubahan secara tiba-tiba, maka kemungkinan terjadinya dampak negatif yang akan menggejala ke dalam kehidupan masyarakat tidak dapat dihindari kehadirannya. Gejala ketimpangan budaya atau cultural lag , harus dapat diminimalisasi pengaruhnya ke dalam tatanan kehidupan masyarakat. Untuk itu sebagai lembaga yang berfungsi menjaga dan mengarahkan perjalanan masyarakat, pendidikan harus dapat menangkap potensi kebutuhan masyarakat.
Dalam proses perubahan sosial modifikasi yang terjadi seringkali tidak teratur dan tidak menyeluruh, meskipun sendi-sendi yang berubah itu saling berkaitan secara erat, sehingga melahirkan ketimpangan kebudayaan. Dikatakan pula olehnya bahwa cepatnya perubahan teknologi jelas akan membawa dampak luas ke seluruh institusi- institusi masyarakat sehingga munculnya kemiskinan, kejahatan, kriminalitas dan lain sebagainya merupakan dampak negatif yang tidak bisa dicegah.
Untuk itulah pendidikan harus mampu melakukan analisis kebutuhan nilai, pengetahuan dan teknologi yang paling mendesak dapat mengantisipasi kesiapan masyarakat dalam menghadapi perubahan. Karl Manheim dalam Faisal dan Yasik (1985) memfokuskan pandangannya untuk melihat aktivitas sekolah dalam melaksanakan proses pengajaran kepada para peserta didik. Secara Heli Manheim mengisyaratkan adanya semacam penyimpangan, di mana para siswa seolah- olah terobsesi pada angka prestasi, padahal tujuan pendidikan bukan itu.
Pembahasan dan analisis mengenai perubahan sosial dan perubahan pendidikan tidak pernah terlepas dari konsep modernisasi. Sebagai sebuah proses masyarakat dunia, modernisasi merupakan gejala universal yang dapat dijadikan sebagai kerangka acuan guna memahami konteks sosial dan pendidikan. Dari sinilah dapat ditarik ruang interpretasi mengenai perspektif perubahan sosial dan perubahan pendidikan.
Kata atau istilah modernisasi mempunyai banyak definisi. Meskipun bagitu, namun tetap ada satu kepastian bahwa pengembangan aplikasi teknologi manusia menjadi muara kelahiran modernisasi. Produk modernisasi sebagaimana terlihat pada masyarakat modern, ditandai oleh kehidupan industrialistis, dengan struktur pekerjaan serta ruang sosial yang kompleks, termasuk di dalamnya munculnya diferensiasi sosial yang semakin tajam.
Dalam menjelaskan tingkat modernisasi suatu masyarakat selain berpatokan pada kekuatan- kekuatan materiil baik itu ruang lingkup ekonomi maupun aplikasi teknologinya, ada banyak ahli lain yang mengedepankan pada atribut strukturalnya. Semisal Parson, Einsantand, Smelser, Buckley dan Marsh.
Sebagaimana dituangkan dalam Faisal dan Yasik (1985) pendapat mereka lebih condong menempatkan diferensiasi sosial sebagai titik tolak analisisnya. Menurut mereka paling tidak ada dua alasan, kenapa titik pangkal diferensiasi sosial begitu pentingnya untuk memahami modernisasi.
a)      Diferensiasi merupakan suatu keniscayaan yang pasti dilalui oleh sistem sosial dalam mengadaptasikan diri terhadap perubahan-perubahan di lingkungannya, dan
b)      Kemampuan untuk melakukan diferensiasi merupakan sebuah indikator positif mengenai kemampuan suatu sistem dalam menyesuaikan diri sesuai dengan proses- proses perubahan yang terjadi.
Suatu cara untuk menggambarkan hubungan perubahan dunia pendidikan dengan tumbuh kembangnya modernisasi, kiranya perlu berangkat dari konsep diferensiasi. Dengan berkembangnya diferensiasi sosial, secara perlahan-lahan akan mengubah fungsi dan sistem pendidikan agar berjalan sejalur dengan kecenderungan sosial tersebut. Perkembangan tersebut ditandai dengan adanya spesialisasi peran serta merebaknya organisasi di dalam sistem pendidikan, sehingga secara internal menumbuhkan diferensiasi struktural dalam tubuh pendidikan.
Proses yang mempengaruhi tubuh pendidikan ini dapat digambarkan dalam pengamatan komparatif antara masyarakat modern dengan masyarakat primitif. Pada masyarakat tradisional proses pendidikan menyatu dengan fungsi- fungsi lain yang kesemuanya diperankan oleh institusi keluarga. Sedangkan pada masyarakat modern proses pendidikan lebih banyak dipengaruhi oleh institusi di luar keluarga.
Meskipun terdapat perbedaan karakter pendidikan yang cukup tajam dalam kedua tipe masyarakat tersebut. Namun pada dasarnya masih tersimpan kemiripan fungsi pendidikan antar kedua tipologi masyarakat tersebut. Baik pendidikan pada masyarakat tradisional maupun masyarakat modern, keduanya sama-sama bertanggung jawab untuk mentransmisikan sekaligus mentransformasikan perangkat-perangkat nilai budaya pada generasi penerusnya.
Dengan demikian, keduanya sama-sama menopang proses sosialisasi dan menyiapkan seseorang untuk peran-peran baru. Letak perbedaannya, tanpa banyak perubahan di dalam fungsi pendidikan menjadi semakin besar dan kompleks. Menurut alur perkembangan diferensiasi pendidikan dapat diterangkan dalam beberapa poin sebagai berikut.[4]
a)      Pendidikan pada masyarakat sederhana yang belum mengenal tulisan. Dalam kehidupan masyarakatnya mengembangkan pendidikan secara informal yang berfungsi untuk memberikan bekal keterampilan-keterampilan mata pencaharian dan memperkenalkan pola tingkah laku yang sesuai dengan nilai serta norma masyarakat setempat. Pada tingkatan ini, peran sebagai siswa dan guru secara murni ditentukan oleh ukuran- ukuran askriptif. Anak- anak menjadi siswa dilatarbelakangi oleh faktor usia mereka, sementara guru disimbolkan sebagai representasi orang tua yang memiliki derajat karisma serta kewibawaan untuk mendidik kaum-kaum muda. Spesifikasi peran para guru itu, juga ditentukan oleh jenis kelamin (yang wanita mengajarkan memasak sementara para laki- laki mengajarkan berburu).
b)      Pada tingkatan yang lebih maju, sebagaian proses sosialisasi teridentifikasi keluar dari batas keluarga, diserahkan kepada semua pemuda di masyarakat tentu saja dengan bimbingan para orang tua yang berpengalaman atau berkeahlian. Kurikulum pendidikan bukan semata- mata kumpulan dari latihan memperoleh ketrampilan- ketrampilan namun juga ditekankan soal-soal metafisik dan budi pekerti. Mengenai siapa yang berperan sebagai guru, tampaknya sudah mulai mempertimbangkan bakat dan pengalaman “berguru” yang pernah diperoleh. Dalam hubungan ini, sang guru bukanlah orang yang memiliki “spesialisasi khusus” seperti halnya spesialisasi-spesialisasi sekarang ini, namun para “siswa” bisa belajar banyak mengenai nilai-nilai kehidupan sebab guru dipandang sebagai sumber segala macam pengetahuan.
c)      Dengan berkembangnya diferensiasi di masyarakat itu sendiri, maka meningkat pula upaya seleksi sosial. Beberapa keluarga atau kelompok meningkat menjadi semakin kuat dalam segi kekuasaan maupun kekuatan ekonominya dibandingkan warga masyarakat yang lain. Mereka yang telah menempati posisi kuat itu, secara formal membatasi akses mengenyam pendidikan bagi seluruh warga masyarakat. Pertimbangan utama dalam menentukan siapa- siapa yang menjadi “siswa”, terletak pada latar belakang kelas atau keturunan seseorang. Sedangkan seleksi para “guru”, di samping disyaratkan memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi, juga diperhitungkan faktor kecerdasan dan bakatnya. Dari segi kurikulum sudah diperhitungkan kebutuhan-kebutuhan perkembangan zaman dengan memfokuskan perhatian pendidikan pada budi pekerti, hukum, teologi, kesenian serta bahasa. Guru masih berperan sebagai figur yang menguasai segala hal daripada sebagai spesialis dari suatu cabang pelajaran tertentu.
d)     Pada tingkatan berikutnya hubungan antara pendidikan dengan masyarakat menjadi kian rumit dan semakin kompleks. Sejalan dengan arus industrialisasi dan kecenderungan diferensiasi sosial, maka spesialisasi peranan menjadi ciri istimewa masyarakat pada tingkatan keempat ini. Di sini pendidikan sudah berjenjang-jenjang begitu rupa, dan kualifikasi para pengajar sudah tersebar ke dalam bidang keahlian yang beragam pula. Dalam hubungan ini, sekolah mendapat beban-beban baru, yaitu sebagai pusat pengajaran bagi masyarakat luas, dan sebagai media seleksi sosial serta berperan pula sebagai lapangan pekerjaan.
Pesatnya arus diferensiasi serta spesialisasi selama dekade-dekade terakhir memicu beberapa perubahan dalam tubuh formasi pendidikan. Hal itu terjadi sebagai akibat dari mendesaknya permintaan masyarakat akan tersedianya tenaga-tenaga spesialisyang akan menopang bergulirnya roda kehidupan masyarakat yang tengah bertumpu pada kekuatan industri produk massal.
Dalam perkembangan ini, sistem pendidikan beranjak pesat menjadi institusi yang mempunyai “kedudukan penting” terutama dalam menopang perubahan sosial ekonomi (baik perubahan yang direncanakan maupun tidak), lalu pendidikan berkembang menjadi “jembatan” prestise dan status, selain juga tampil sebagai faktor utama mobilitas sosial, baik vertikal maupun horisontal, baik intra maupun antargenerasi.


[1] Vembriarto, ST., Drs Subiyanto, Drs Sudarsono, 1979. Pengantar Perencanaan Pendidikan (Educational Planing). Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psychologi UGM. Hlm 191
[2] http://74.125.153.132/search?q=cache:CXo9ZjkgSv4J:one.indoskripsi.com/node/8671+%22hubungan+perubahan+sosial+dan+pendidikan%22&cd=7&hl=id&ct=clnk&gl=id
[3] Tim Dosen FIP-IKIP Malang, 1981. Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan. Surabaya: Usaha Nasional, hlm. 96
[4] Drs. Sanapia Faisal, 1985. Sosiologi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional, hlm. 107-110