"SELAMAT DATANG DI BLOG 007INDIEN SEMOGA MENDAPATKAN SESUATU YANG BERMANFAAT DI BLOG INI"

Senin, 12 Desember 2011

Perspektif Dan Paradigma Konstruktivisme

 Ketika peserta didik dihadapkan dengan suatu hal yang baru dan sungguh bertentangan dengan hal yang sebelumnya, ia akan menyusun suatu pemahaman yang berbeda untuk mengakomodasi pengalaman barunya atau mengabaikan dan mempertahankan informasi dan pemahamannya. Dalam hal ini pengetahuan atau pemahaman tidak saja datang dari subjek atau objek semata, namun dari keduanya. (piaget dan Inhelder dalam, santyasa 2005).
Kemapuan koginitif anak sangat berperan dalam proses pemahaman ini atau proses konstruksi ini. Praktek pembelajaran konstruktifistik membantu pembelajaran untuk menginternalkan membentuk kembali, atau menstransformasi informasi baru (santyasa,2005).
Menurut, Sushkin, N menyatakan bahwa teori Konstruktivisme menekanan kepada pelajar lebih daripada guru. Ini adalah karena pelajarilah yang berinteraksi dengan bahan dan peristiwa serta memperoleh pehaman tentang bahan dan peristiwa tersebut.
Dalam sebuah paradigma pembelajaran, guru atau pun pendidik menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa atau peserta didik untuk mengidentifikasi, mengeksplorasi, berhipotesis, berkonjektur, menggeneralisasi, dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. Sehingga, proses pembelajaran tidaklagi berfokus pada pendidik, namun proses yang dihadapi oleh peserta didik itu sendiri. Mereka membangun pengetahuannya sendiri. Atau dengan kata lain lewat eksplorasi pikiran kebutuhan belajar mereka terfasilitasi.
Agar konstruktivisme ini dapat terlaksana secara optimal, Confrey (1990) (dalam, Dina Gasong) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism), yaitu: konsistensi internal, keterpaduan, kekonvergenan, refeleksi-eksplanasi, kontinuitas historical, simbolisasi, koherensi, tindak lanjut, justifikasi, dan sintaks (SOP).
Adanya perubahan dan pandangan mengenai konstruktivisme mensyaratkan adanya tuntutan untuk terjadinya proses pemberdayaan diri dan mengenmbangkan potensi-potensi peserta didik secara holistic melalui proses pembelajaran. Kajian mendalam mengenai paradigma konstruktivismme merupakan suatu tuntutan yang baru di tengah terjadinya perubahan besar dalam memaknai proses pendidikan dan pembelajaran. Pada masa sebelumnya, paradigma pembelajaran masih bertumpu pada peran guru, fasilitator, insstruktur, yang demikian besar pada pemberdayaan peserta didik dalam mengambil sebuah inisiatif, dan partisipasi dalam kegiatan belajar. Berkembangnya konstruktivisme tidak terlepas dari berubahnya pandangan yang menempatkan pengetahuan sebagai representasi kenyataan dunia yang terlepas dari pengamat.
Konstruktivisme memandang bahwa kegiatan belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam upaya menemukan pengetahuan konsep kesimpulan dan bukan merupakan kegiatan mekanistik untuk mengumpulkan informasi atau fakta semata. (Aunurrahman, 2009)
Persepektif ini mensyaratkan bahwa peserta didik bertanggung jawab terhadap pembelajarannya, menjadi pemikir yang otonom, pengembang konsep terintergrasi, mengembangkan pertanyaan yang menantang, menemukan jawabannya secara mandiri. Jika dikaji secara lebih mendalam, konstruktivisme bukanlah sebuah teori baru. Namun eksistensinya, mendasari teori-teori belajar yang ada.
Pandangan Pembelajaran konstruktivisme berbeda dengan pembelajaran konvensional atau tradisional:

Dimensi
Pembelajaran Tradisional
Pembelajaran Konstruktivisme
Ruang Lingkup Pembelajaran
Disajikan secara terpisah, bagian per bagian dengan penekanan pada pencapaian ketrampilan dasar
Disajikan secara utuh dengan penjelasan tentang keterkaitan antar bagian, dengan penekanan pada konsep-konsep utama
Kurikulum
Harus dikuti sampai habis
Pertanyaan dan konstruksi jawaban siswa adalah penting
Kegiatan pembelajaran
Berdasarkan buku teks yang sudah ditemukan
Berdasarkan beragam informasi primer dan materi-materi yang dapat dimanipulasi langsung oleh siswa
Kedudukan siswa











Dilihat sebagai sumber kosong “blank mind”tempat ditumpahkannya semua pengetahuan dari guru
Siswa dilihat sebagai pemikir yang mampu menghasilkan teori tentang dunia dan kehidupan
Implementasi

Guru mengajar dan menyebarkan informasi keilmuan kepada siswa(sumber otoritas
Guru bersikap interaktif dalam pembelajaran menjadi fasilitator dan mediator bagi siswa

Guru penanggung jawab utama PBM
Pebelajar adalah penanggung jawab
utama
Guru pemegang kendali pikiran siswa

Pikiran siswa dipandang sebagai jaringan ide yang kaya dan bervariasi
Penyelesaian masalah pembelajaran
Selalu mencari jawaban yang benar untuk memvalidasi proses belajar siswa
Guru mencoba mengerti persepi siswa agar dapat melihat pola pikir siswa dan apa yang sudah diperoleh siswa untuk pembelajaran selanjutnya
Penilaian proses pembelajaran (evaluasi)
Merupakan bagian terpisah dari pembelajaran dan dilakukan hampir selalu dalam bentuk tes atau ujian (replikasi dari apa yang dikerjakan siswa)
Merupakan bagian integral dalam pembelajaran, dilakukan melalui observasi guru terhadap hasil kerja melalui pameran karya siswa dan fortoofolio
Aktivitas belajar siswa

Siswa lebih banyak belajar sendiri
Lebih banyak belajar dalam kelompok
Orientasi pikiran siswa
Guru berasumsi bahwa “pengetahuan dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru kepikiran siswa”
Pengetahuan dibangun dalam pikiran pembelajar
Isi
Setelah proses pembelajaran di kepala siswa akan terdapat tiruan atau copy pengetahuan
Pikiran siwa dipandang sebagai jaringan ide yang kaya dan bervariasi dalam arti tak seslalu sama dengan input yang ia terima
Proses interaksi


Proses pembelajaran dimulai dari posisi pilihan guru, tanpa memperhatikan “prior knowledge” dan miskonsepsi
Pengetahuan awal (prior knowlegde) dan miskonsepsi siswa digunakan sebagai dasar dalam merancang dan mengimplementasikan program pembelajaran

Mencermati peran keaktifan siswa yang sangat penting di dalam konstruktivisme, namun hal ini tak sama persis dengan teori behaviorisme. Ada beberapa perbedaan yang mendasar antara kedua teori ini dalam pembelajaran :
No
Behaviorisme
Konstruktivisme
1
Belajar merupakan aktivitas pengumpulan informasi yang diperkuat oleh lingkungannya

Belajar atau penggalian pengetahuan itu adalah kegiatan aktif siswa meneliti lingkungannya
2
Pengetahuan itu statis dan sudah jadi
Pengetahuan itu merupakan “suatu proses menjadi”
3
Mengajar merupakan kegiatan mengatur lingkungan agar dapat membantu belajar
Mengajar berarti partisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan membuat makna mempertanyakan kejelasan bersikap kritis serta justifikasi

Dalam setting pembelajaran konstruktivistik, ada beberapa cirri yang mendorong pemahaman konstruktivis :
a)   Mebebaskan peserta didik belajar dari tujuan dan membiarkan mereka memfokuskan ide-ide secara mandiri
b)  Menempatkan kemnadirian peserta didik sesuai dengan minatny, membuat hubungan merumuskan kembali ide-ide, dan menarik kesimpulan sendiri.
c)   Sharing degan siswa atau peserta didik mengenai pentingnya pesan bahwa duni adalah tempat yang kompleks yang mana pandangan yang multi terdapat, dan kebenaran swesring merupakan hasil interpretasi
d)     Mengakui bahwa pembelajaran dan proses penilaian harus disesuaikan dengan apa yang menjadi kreativitas para peserta didik. (Buku ajar belajar dan pembelajaran, santyasa, 2005)
Pembelajaran konstruktivistik ini menyediakan peluang terjadinya proses perubahan konseptual secara optimal. Dalam iklim konstruktivistik, peserta didik memiliki peluang menggunakan meta kognitifnya untuk berpikir, berkreativitas dan mengevaluasi diri dalam mengkonstruksi pengetahuan barunya. Jadi yang menjadi focus adalah proses oleh peserta didik itu sendiri. Oleh glaserfeld dan kitchener (1987), ada 3 hal mendasar mengenai pemahaman gagasan konstruktivis :
a)   Pengetahuan bukanlah gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek.
b)     Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep dan struktur yang perlu untuk pengetahuan.
c) Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk pengetahuan dan konsepsi itu berlaku bila berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang. ( Dalam Aunurrahman, 2009)
Hal ini jelas mensyaratkan bahwa konstruktivisme sebagai teori pembelajaran memberi pemahaman akan pennggapaian pengetahuan itu seperti apa, bagaimana dan dimana haus dimulai. Dalam perspektif atau paradigma konstruktivisme juga dijelaskan dan didasari pada 3 fokus belajar yaitu
1. Proses
Dalam proses pembelajaran, menurut pandangan konstruktivisme pengetahuan awal dari peserta didik (prior knowlegde) dan miskonsepsi-miskonsepsinya digunakan sebagai dasar dalam merancang serta mengimplementasikan program pembelajaran, dalam arti bahwa dalam proses pendidikan yang berpusat pada siswa, tujuan belajar lebih berfokus pada upaya bagaimana membantu para siswa melakukan revolusi kognitif.
2. Transfer belajar
Pengetahuan dalam proses pembelajaran, tidak dapat dipindahkan begitu saja secara utuh dari guru ke peserta didik. Transfer yang terjadi adalah uru sebagai mediatar dan fasilitator yang memberi kontribusi mendorong peserta didik dalam menemukan kunci permasalahannya secara mandiri.
3. How to learn
Bagaimana belajar (how to learn) memiliki nilai yang lebih penting dibandingkan dengan apa yang dipelajari (what to learn). Alternatif pencapaian learning how to learn, adalah dengan memberdayakan keterampilan berpikir siswa. (Santyasa, 2003). Focus yang berdasar pada tiga hal ini adalah bahan yang unggul dalam membangun pengetahuan atau mengkonstruct pengetahuan dari siswa berdasar pengalamannya.

Sumber Bacaan: 
Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Gasong, Dina. Model Pembelajaran Konstruktivistik Sebagai Alternative Mengatasi Masalah Belajaran. Http://Www.Scribd.Com
Santyasa, Iwayan. 2005. Belajar Dan Pembelajaran. Singaraja : Undiksha Aunurrahman. 2009. Belajar Dan Pembelajaran. Pontianak : Alfabeta.